Ekonomi 28 Dec 2025 8 views

Regenerasi Petani Subang, Cerita Otong tentang Pupuk dan Panen 8 Ton

Otong Wiranta, seorang petani di Kabupaten Subang, Jawa Barat, mewarisi darah petani dari ayahnya. Sejak kecil, ia terbiasa menemani sang ayah ke sawah, mulai dari bermain di pemat...

Regenerasi Petani Subang, Cerita Otong tentang Pupuk dan Panen 8 Ton
Otong Wiranta, seorang petani di Kabupaten Subang, Jawa Barat, mewarisi darah petani dari ayahnya. Sejak kecil, ia terbiasa menemani sang ayah ke sawah, mulai dari bermain di pematang hingga perlahan belajar mencangkul dan menanam. Kebiasaan ini akhirnya membawanya mengikuti jejak ayahnya.

Berbeda dengan ayahnya, Otong memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) dan setelah lulus, bekerja di perusahaan agrokimi. Sambil bekerja, Otong melanjutkan studi di Universitas Winaya Mukti, Sumedang, dan berhasil meraih gelar sarjana pertanian. Setelah beberapa tahun, ia memutuskan keluar dari perusahaan.

Pada tahun 2004, Otong bertekad menjadi petani mandiri. Dengan modal dari hasil kerjanya, ia membeli lahan seluas 4.000 meter persegi. Awalnya, ia menggarap lahan itu sendirian, menanam padi setiap musim tanam, kadang diselingi jagung. Kini, setelah lebih dari 20 tahun berkecimpung di dunia pertanian padi, Otong yang berusia 55 tahun telah memiliki sawah seluas lebih dari 2 hektare di Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang.

"Saya di swasta itu sambil mencari pengalaman mengelola usaha dan ternyata usaha tani itu salah satu sektor yang menguntungkan," kata Otong.

Selama puluhan tahun, Otong juga melebarkan usahanya dari sekadar bertani hingga ke sektor hilir, yaitu penyediaan pupuk, produksi benih, dan penjualan beras hasil panennya sendiri. "Jadi, keuntungan diperoleh tidak dari budidaya saja. Tapi dari penyediaan sarana produksinya (pupuk, pestisida dll). Dari produksi benih juga. Selain itu jika beras lagi bagus harganya, maka saya jadikan beras hasil panennya," jelas Otong.

Selain itu, Otong aktif berorganisasi dan saat ini menjabat sebagai Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat. Menurutnya, pertanian saat ini menghadapi banyak tantangan, seperti musim yang tidak menentu, serangan hama penyakit, dan kelangkaan tenaga kerja.

Subang adalah salah satu penghasil padi terbesar di Jawa Barat, menempati posisi ketiga setelah Indramayu dan Karawang. Untuk meningkatkan hasil panen, pemupukan maksimal sangat penting. Otong menggunakan pupuk subsidi Urea dan Phonska, ditambah nutrisi tambahan yang disemprotkan beberapa kali setiap musim tanam.

Pemupukan dilakukan dua hingga tiga kali per musim tanam. Pemupukan pertama pada usia 10-15 hari setelah tanam, dan pemupukan kedua pada usia 40-45 hari setelah tanam. Padi dapat dipanen setelah berusia 110-120 hari atau sekitar 4 bulan. "Sekarang [kami] sudah selesai tanam dan melakukan pemupukan pertama," imbuh Otong.

Otong membeli pupuk subsidi dari PT Pupuk Indonesia (Persero). Ia mengapresiasi dukungan pemerintah dalam menyediakan pupuk subsidi berkualitas dan menurunkan harganya. "Yang bikin petani tambah senang, harganya turun 20 persen. Harga pupuk Urea dari Rp2.250 per kg menjadi Rp1.800. Sedangkan Phonska dari Rp2.300 menjadi Rp1.840," katanya.

Penurunan harga pupuk subsidi ini sangat membantu petani karena kebutuhan pupuk untuk padi tidak sedikit. Otong rata-rata menggunakan pupuk Urea dan Phonska sekitar 500-550 kg per hektare setiap musim tanam. Ia juga puas dengan kualitas pupuk dari Pupuk Indonesia, baik subsidi maupun nonsubsidi, yang diyakininya dapat meningkatkan hasil panen.

"Alhamdulillah, hasil kami musim kemarin rata-rata 8-8,5 ton per musim. Penghasilan dari nilai uang itu sekitar Rp45-50 juta per hektare kotornya," ujarnya.

Otong juga membantu penyaluran pupuk subsidi agar merata. Ia memastikan petani yang tergabung dalam kelompok tani dan terdaftar di e-RDKK (elektronik-Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) akan mendapatkan pupuk sesuai kebutuhan. "Untuk petani yang sudah menjadi anggota kelompok tani dan terdaftar di e-RDKK itu mereka tinggal datang aja ke kios yang ditunjuk," jelasnya.

Selain itu, Otong menjamin ketersediaan pupuk nonsubsidi dari Pupuk Indonesia dengan variasi jenis yang bisa disesuaikan petani. Pupuk Indonesia juga aktif memberikan edukasi di lapangan dan menawarkan program Makmur kepada petani. "Setiap awal musim selalu ada pertemuan untuk teknik budidaya termasuk pemupukannya, yang hadir di antaranya ada dari Pupuk Indonesia," katanya. "Kecuali untuk petani yang mengikuti program Makmur maka pendampingan dilakukan secara penuh oleh Pupuk Indonesia," tambahnya.

Program Makmur, singkatan dari Mari Kita Majukan Usaha Rakyat, diluncurkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir pada 28 Agustus 2021 di Subang. Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani, mencakup pengelolaan budidaya tanaman berkelanjutan, informasi dan pendampingan, digital farming, mekanisme pertanian, akses permodalan, perlindungan risiko, serta jaminan pasar.

Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), Yehezkiel Adiperwira, menyatakan pemerintah telah mengalokasikan 9,55 juta ton pupuk bersubsidi secara nasional untuk tahun 2025, meliputi Urea, NPK, NPK Kakao, pupuk Organik, dan pupuk ZA khusus tebu. "Pupuk Indonesia memastikan proses produksi berjalan optimal guna memenuhi kebutuhan pupuk nasional. Dengan dukungan jaringan distribusi yang mumpuni, kami juga terus memastikan ketersediaan pupuk mencukupi sehingga dapat ditebus oleh petani yang berhak," kata Yehezkiel.

Pupuk Indonesia juga menerapkan sistem digital i-Pubers yang terintegrasi dengan e-RDKK Kementerian Pertanian, memungkinkan petani menebus pupuk dengan KTP atau surat kuasa. "Pupuk Indonesia siap mendukung tercapainya program prioritas pemerintah untuk mencapai swasembada pangan dengan memastikan ketersediaan stok dan kelancaran distribusi pupuk bersubsidi," ujarnya.

Yehezkiel menjelaskan bahwa Pupuk Indonesia telah menyesuaikan harga di seluruh jaringan distribusi, sehingga petani dapat menebus pupuk bersubsidi dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) terbaru. Pemerintah menurunkan HET pupuk bersubsidi sebesar 20 persen pada 22 Oktober 2025, sesuai Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi. Pengawasan ketat dilakukan bersama pemerintah dan penegak hukum untuk memastikan implementasi HET berjalan baik, dengan sanksi tegas bagi kios yang melanggar.

"Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong daya beli petani dan produktivitas pertanian, yang dapat berkontribusi pada swasembada pangan," katanya.

Hingga 15 Desember 2025, stok pupuk nasional mencapai 1 juta ton, terdiri dari 604 ribu ton pupuk subsidi dan 407 ribu ton nonsubsidi. Penyaluran pupuk subsidi selama 2025 berjalan baik, mencapai 7,91 juta ton atau 82,8 persen dari alokasi. Untuk tahun 2026, Pupuk Indonesia akan terus fokus pada pengadaan pupuk berkualitas dan melanjutkan agenda efisiensi serta transformasi industri, termasuk revitalisasi pabrik, didukung Perpres No 113 Tahun 2025.

"Ini yang menjadi landasan kebijakan baru dalam tata kelola pupuk bersubsidi dan mendorong industri pupuk yang lebih efisien dan berkelanjutan," kata Yehezkiel.

Otong dan petani lainnya mengapresiasi jaminan pasokan dan kualitas pupuk dari Pupuk Indonesia, serta kebijakan penurunan harga pupuk nonsubsidi. Menurutnya, kebijakan ini sangat membantu petani menghadapi berbagai tantangan. Dengan pasokan dan kualitas pupuk yang terjamin, petani dapat terus menikmati hasil panen melimpah, yang menjadi sumber nafkah utama mereka.

Otong berharap dapat terus menafkahi keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin melalui pertanian. Saat ini, anak pertamanya baru saja lulus dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), sementara anak keduanya masih menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia menjelaskan bahwa salah satu anaknya mengambil jurusan pertanian dan yang lain manajemen. Keduanya tidak berkeinginan menjadi pegawai, melainkan ingin berwirausaha di bidang pertanian, baik dalam budidaya maupun hilirisasi.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20251228143338-92-1311293/regenerasi-petani-subang-cerita-otong-tentang-pupuk-panen-8-ton
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.