Pendapatan per Kapita Jakarta Nyaris Rp350 Juta, di Atas Rusia-China
Judul: Pendapatan per Kapita Jakarta Nyaris Rp350 Juta, di Atas Rusia-China Jakarta, Pendapatan per kapita DKI Jakarta tembus US$21.706 atau sekitar Rp343,97 juta per tahun (asums
Jakarta, Pendapatan per kapita DKI Jakarta tembus US$21.706 atau sekitar Rp343,97 juta per tahun (asumsi rerata kurs Rp15.847 per dolar AS) pada 2024, di atas sejumlah negara.Tercatat, angka tersebut jauh melampaui pendapatan per kapita Malaysia dan China yang masih berada di kisaran US$13 ribu, serta Thailand dan Vietnam yang lebih rendah lagi.Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) dan World Bank, pendapatan per kapita Malaysia pada 2025 diproyeksikan berada di kisaran US$13.900, dan China sekitar US$13.800. Lalu, Thailand sekitar US$7.800, dan Vietnam sekitar US$4.700-US$4.800 per tahun.
Pendapatan per kapita Jakarta juga lebih tinggi dari Rusia yang tercatat sekitar US$17.446, Filipina yang sekitar US$4.300, dan India sebesar US$2.800.Lihat Juga :Purbaya Sindir Sikap Lemah PBB soal Trump Tangkap Maduro
Meski begitu, pendapatan per kapita Jakarta masih tertinggal jauh dibandingkan negara maju di kawasan, seperti Singapura yang jauh di atasnya.IMF mencatat pendapatan per kapita Singapura diperkirakan menembus US$93 ribu per tahun, menjadikannya salah satu yang tertinggi di dunia.Perbandingan ini juga menegaskan kesenjangan ekonomi di dalam negeri. Rata-rata pendapatan per kapita Indonesia secara nasiona masih berada di kisaran US$5.000, jauh di bawah Jakarta sebagai pusat ekonomi dan bisnis.Tanda Kesejahteraan Tak MerataTingginya pendapatan per kapita DKI Jakarta menunjukkan besarnya kapasitas ekonomi ibu kota. Namun, tingginya angka tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan tingkat kesejahteraan mayoritas warga Jakarta."Apakah ini mencerminkan kesejahteraan? Sebagian saja, tidak untuk semua. Pendapatan per kapita adalah rata-rata, bukan pendapatan tipikal," ujar Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita kepada .com.Justru, kondisi tersebut dinilai sebagai tanda bahwa ketimpangan di Indonesia, bahkan di Jakarta saja masih sangat lebar. Sebab, rata-rata pendapatan per kapita Tanah Air hanya sekitar US$5.000-an saja."Jakarta, distribusi pendapatan sangat timpang. Segelintir kelompok berpenghasilan sangat tinggi, mulai dari konglomerat, eksekutif, profesional nasional dan global, pemilik aset besar, dan lainnya," jelasnya.
"Sementara itu, jutaan pekerja informal, buruh jasa, dan kelas menengah bawah hidup dengan pendapatan yang jauh di bawah angka tersebut. Jadi, secara statistik terlihat 'kaya raya', namun secara sosiologis realitasnya jauh lebih berlapis dan cenderung agak miris," imbuhnya.Selain ketimpangan, ia menilai tingginya biaya hidup juga menjadi faktor penting. Pendapatan nominal yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan daya beli."Dengan biaya perumahan, transportasi, dan kebutuhan dasar yang tinggi, daya beli masyarakat Jakarta tidak otomatis lebih baik dibandingkan wilayah lain dengan pendapatan lebih rendah," pungkasnya. (ldy/sfr)
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260105181930-532-1313797/pendapatan-per-kapita-jakarta-nyaris-rp350-juta-di-atas-rusia-china
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
14 Feb 2026
AS Izinkan 5 Perusahaan Minyak Raksasa Beroperasi di Venezuela
13 Feb 2026
Jejak Inovasi Huawei Pimpin Smartphone Lipat, dari Mate X ke Mate X7
13 Feb 2026
Bos Badan Gizi Klaim MBG Dorong Uang Beredar Rp29 T
13 Feb 2026
PT Garam Bakal Olah Limbah Kilang Balikpapan, Investasi Pabrik Rp7 T
13 Feb 2026
Purbaya Pastikan Misbakhun-Suahasil Tak Daftar Seleksi Bos OJK
13 Feb 2026
Purbaya soal Impor Ilegal Tiffany dan Co: Sepertinya Ada Kongkalikong