Ekonomi 15 Jan 2026 4 views

Rumus Buat Purbaya Utak-atik APBN Biar Ekonomi RI Ngegas di 2026

Judul: Rumus Buat Purbaya Utak-atik APBN Biar Ekonomi RI Ngegas di 2026 Jakarta, Pemerintah mempunyai tantangan yang tak mudah untuk menerbangkan ekonomi Indonesia di tengah tekan...

Rumus Buat Purbaya Utak-atik APBN Biar Ekonomi RI Ngegas di 2026
Judul: Rumus Buat Purbaya Utak-atik APBN Biar Ekonomi RI Ngegas di 2026

Jakarta, Pemerintah mempunyai tantangan yang tak mudah untuk menerbangkan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global dan keterbatasan fiskal, terutama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.Di tengah keterbatasan fiskal ini, sebagai bendahara negara, Purbaya harus membuat kebijakan yang tidak hanya mendorong pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).Apalagi, hingga akhir 2025, realisasi defisit jauh di atas target yang ditetapkan. Di mana, hampir mencapai batas aman UU Keuangan Negara, yakni maksimal 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit APBN 2025 tembus 2,92 persen atau Rp695,1 triliun, jauh di atas APBN yang dipatok hanya 2,53 persen atau Rp616,2 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Defisit terjadi karena belanja yang jauh lebih besar dibandingkan pemasukan. Pengeluaran negara tahun lalu Rp3.451,4 triliun, sedangkan pemasukan hanya Rp2.756,3 triliun.Lihat Juga :Alasan BPOM Minta Nestle Setop Edarkan Susu Formula di RI
Lalu pilihan logis apa yang bisa diambil Purbaya untuk terbangkan ekonomi 2026?Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai pemerintah perlu fokus pada tiga agenda besar untuk menjaga momentum pertumbuhan. Kebijakan ekonomi harus diarahkan pada keseimbangan antara daya beli masyarakat, kesehatan APBN, dan reformasi struktural."Kalau menurut saya, untuk mendorong ekonomi tahun ini, pemerintah, terutama Pak Purbaya, perlu fokus pada tiga hal strategis, yakni menjaga daya beli, memastikan APBN tetap sehat dan kredibel, serta reformasi struktural untuk meningkatkan pendapatan negara tanpa membebani masyarakat," ujar Ronny kepada .com.Salah satu instrumen yang kerap menjadi sorotan adalah kebijakan utang. Di tengah ekonomi global yang melambat, utang masih dapat dimanfaatkan untuk menopang pertumbuhan melalui belanja produktif dan investasi.Lihat Juga :Kurs Rial Anjlok, WNI Bawa Rp20 Ribu Bisa Jadi Jutawan di Iran"Plusnya, pemerintah punya dana ekstra untuk membiayai program yang bisa menggerakkan ekonomi, seperti infrastruktur, pangan, dan UMKM. Utang juga bisa menopang konsumsi dan investasi di saat ekonomi global sedang melambat," katanya.Namun demikian, Ronny mengingatkan peningkatan utang juga membawa konsekuensi fiskal yang perlu dikelola secara hati-hati agar tidak memicu tekanan terhadap stabilitas makro.Dari sisi negatifnya, dengan penambahan utang, maka beban bunga utang juga terus meningkat karena suku bunga global masih tinggi. Apabila tidak dikelola dengan hati-hati, maka bisa menekan rupiah karena pasar bisa melihatnya sebagai risiko fiskal."Menurut hemat saya, boleh tambah utang, asal jelas dipakai untuk hal produktif, bukan belanja yang tidak menghasilkan pertumbuhan," katanya.Selain utang, opsi pelebaran defisit juga dinilai masih logis untuk memberi ruang belanja pemerintah. Sisi baiknya, defisit yang lebih longgar dapat menopang pemulihan ekonomi tanpa harus menaikkan pajak dalam waktu dekat.Lihat Juga :BGN Buka Suara Soal Pegawai SPPG Bakal Diangkat Jadi PPPKDari sisi buruknya, Ronny menekankan pentingnya disiplin fiskal dan komunikasi kebijakan agar pelebaran defisit tidak menimbulkan kekhawatiran di pasar."Cuma minusnya, perlu komunikasi yang kuat agar pasar percaya bahwa pelebaran (defisit) bersifat sementara. Kalau belanjanya tidak efisien, efek ke ekonomi akan kecil. Artinya, pelebaran defisit tidak masalah, asalkan terukur dan diarahkan ke sektor dengan multiplier tinggi," jelasnya.Senada, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai dengan posisi Purbaya sebagai Menteri Keuangan, kebijakan fiskal menjadi ruang paling realistis untuk dioptimalkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi tahun ini.Menurutnya, penetapan defisit yang lebih terkendali dibandingkan tahun sebelumnya justru menunjukkan desain APBN yang tetap ekspansif, tetapi lebih hati-hati."Penetapan defisit anggaran tahun berjalan yang lebih terkendali secara konsolidasi dibandingkan capaian tahun lalu dapat dipandang sebagai sinyal positif. Hal ini menunjukkan bahwa desain APBN tahun ini secara struktural diarahkan untuk tetap ekspansif, baik melalui sisi belanja maupun penguatan penerimaan negara," kata Yusuf.
Dari sisi belanja, Yusuf menilai stimulus fiskal masih perlu dilanjutkan, dengan sasaran yang lebih presisi. Selain kelompok berpendapatan rendah, kelompok menengah dan calon kelas menengah dinilai juga memiliki peran penting dalam menopang konsumsi domestik.Namun, ia mengingatkan stimulus tersebut harus diimbangi dengan kehati-hatian fiskal agar tidak memicu pelebaran defisit yang berlebihan."Kelompok ini memiliki peran penting dalam menopang konsumsi domestik. Namun demikian, perlu kehati-hatian dalam implementasinya, mengingat apabila target penerimaan kembali meleset seperti tahun lalu, maka konsekuensinya adalah pelebaran defisit anggaran," jelasnya.Yusuf juga menyoroti risiko lanjutan dari pelebaran defisit, yakni meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang dan beban bunga yang dapat menggerus ruang belanja di masa depan. Karena itu, pengelolaan utang dinilai harus dilakukan secara prudent dan terukur."Kenaikan beban bunga utang yang signifikan berpotensi mengurangi fleksibilitas belanja pemerintah di masa mendatang, mengingat sebagian ruang fiskal, khususnya belanja pemerintah pusat, akan terserap untuk pembayaran bunga utang," imbuh Yusuf.Meski demikian, kondisi pasar keuangan dinilai masih cukup kondusif. Koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia disebut menjadi faktor kunci dalam menjaga biaya pembiayaan utang tetap terkendali."Harapannya, Bank Indonesia tetap konsisten menjaga kebijakan suku bunga acuan yang akomodatif sehingga turut menekan biaya penerbitan utang pemerintah," terangnya.[Gambas:Photo CNN]Langkah Genjot EkonomiDari sisi penerimaan negara, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai kenaikan tarif pajak bukan opsi utama. Fokus kebijakan dinilai perlu diarahkan pada perluasan basis pajak.Kedua, mengoptimalkan aset negara seperti monetisasi aset idle dan dorong BUMN lebih efisien agar tidak membebani APBN. Ketiga, memperkuat hilirisasi dan ekspor bernilai tambah agar penerimaan negara stabil bahkan saat harga komoditas fluktuatif.Dengan kombinasi kebijakan tersebut, Ronny memproyeksikan ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh solid di kisaran 5 persen yakni di kisaran 5-5,3 persen. Konsumsi rumah tangga dinilai masih akan menjadi penopang utama perekonomian, sehingga menjaga daya beli tetap menjadi kunci utama."Ekonomi kita consumption based dari dulu ya, jadi posisi konsumsi rumah tangga akan tetap di atas 50 persen. Karena itu sangat penting menjaga daya beli. Kontribusi ekspor dan investasi perlu ditingkatkan, kalau ingin pertumbuhan tinggi. Sementara belanja pemerintah harus mengarah ke sektor-sektor produktif," tegasnya.Peneliti CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pemerintah perlu memperkuat upaya intensifikasi pajak, terutama melalui pemastian implementasi sistem Coretax yang selama ini diharapkan dapat memperbaiki administrasi perpajakan secara menyeluruh."Di samping itu, ruang ekstensifikasi pajak juga perlu kembali dibuka, khususnya pada pos-pos pajak yang memiliki potensi besar seperti pajak karbon, yang sebelumnya telah masuk dalam agenda kebijakan namun masih tertunda," kata Rendy.Sedangkan, untuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP), Yusuf menilai diversifikasi sumber penerimaan juga perlu diperkuat agar APBN tidak terlalu bergantung pada sektor sumber daya alam."Meskipun kontribusinya mungkin tidak besar dalam jangka pendek, langkah ini tetap relevan sebagai bagian dari upaya memperkuat basis penerimaan negara ke depan, termasuk untuk mendukung APBN 2026," tegasnya.Yusuf memprediksi perekonomian batas bawah bisa tumbuh di bawah 5 persen."Sepanjang 2026 kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran angka 4,9 hingga 5,1 persen," pungkasnya.[Gambas:Video CNN]
Bisa Terbang hingga Berapa Persen?

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260115065701-532-1317208/rumus-buat-purbaya-utak-atik-apbn-biar-ekonomi-ri-ngegas-di-2026
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.