Ekonomi 05 Mar 2026 6 views

Dibayangi Perang Iran, Seberapa Kuat Fondasi Ekonomi RI Jegal Krisis?

Judul: Dibayangi Perang Iran, Seberapa Kuat Fondasi Ekonomi RI Jegal Krisis? Jakarta, Memanasnya konflik di Timur Tengah kembali menempatkan ekonomi Indonesia dalam posisi siaga....

Dibayangi Perang Iran, Seberapa Kuat Fondasi Ekonomi RI Jegal Krisis?
Judul: Dibayangi Perang Iran, Seberapa Kuat Fondasi Ekonomi RI Jegal Krisis?

Jakarta, Memanasnya konflik di Timur Tengah kembali menempatkan ekonomi Indonesia dalam posisi siaga. Harga minyak dunia yang sudah bergerak di atas asumsi Indonesia Crude Price (ICP) US$70 per barel dalam APBN 2026.ICP adalah harga minyak yang ditetapkan pemerintah sebagai patokan resmi dalam transaksi dan perhitungan ekonomi nasional. Nah, efek rambatan kenaikan harga minyak global yang melampaui ICP bisa berlapis terhadap ketahanan fiskal, nilai tukar hingga daya beli masyarakat Indonesia.Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengingatkan ketidakpastian terhadap APBN semakin bertambah jika perang berlangsung lama, terutama karena asumsi ICP kini sudah tertinggal dari harga pasar global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau melihat situasi yang ada, faktor ketidakpastian di APBN kita itu akan menjadi bertambah," kata Misbakhun dalam acara Indonesia Economic Forum 2026 yang digelar di Auditorium Bank Mega, Jakarta, Senin (2/3).Lihat Juga :Chandra Asri Umumkan Force Majeure Buntut Perang Iran vs AS-Israel
Jika harga minyak terus naik, subsidi energi terancam membengkak dan pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga fiskal atau menahan inflasi.Lalu, seberapa kuat fondasi ekonomi Indonesia menghadapi potensi krisis global akibat konflik tersebut?Ekonom Bright Institute Awalil Rizky menilai dampak geopolitik sudah mulai terasa di Indonesia. Gejolak politik, terutama perang, berakibat terganggunya produksi dan perdagangan barang.Menurutnya, dinamika ekonomi modern membuat transmisi krisis berlangsung cepat karena dipengaruhi persepsi dan ekspektasi pelaku pasar, terutama lembaga keuangan nonbank (LKNB) seperti dana investasi (investment fund) dan dana lindung nilai (hedge fund)."Pola perilaku Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB) ini yang paling mempengaruhi pasar saham, pasar surat utang dan nilai tukar. Persepsi dan ekspektasi mereka yang menentukan arah," ujarnya kepada .com, Rabu (4/3).Ia menilai Indonesia berada dalam posisi kurang menguntungkan. Sebab, sebelum perang Timur Tengah pecah pun pasar keuangan domestik sudah bergejolak.Lihat Juga :Garuda Indonesia Turun Bintang Usai Skytrax Turunkan Peringkat"IHSG yang baru mulai pulih kembali terhajar. Yield SBN yang sempat turun signifikan pada 2025, terus meningkat pada 2026, akan berisiko naik lebih tinggi akibat kondisi global saat ini. Rupiah yang sempat sedikit menguat juga kembali melemah," jelasnya.Dibanding negara lain, Awalil menilai Indonesia tidak punya daya besar untuk memengaruhi dinamika global."Posisi Indonesia nyaris tidak bisa menjadi faktor yang mempengaruhi dinamika di atas. Kondisi 'given' lebih memerlukan mitigasi risiko dibanding mengambil keuntungan saat ini," tegasnya.Di tengah volatilitas pasar global, Awalil menilai ruang pembiayaan defisit akan semakin terbatas karena investor cenderung lebih berhati-hati menempatkan dana di negara berkembang. Artinya, strategi mengandalkan penerbitan surat utang tidak lagi semudah sebelumnya."Ke depan, akan tidak mudah untuk mencari utang. Penerbitan SBN makin kesulitan mencari pembeli," katanya.Ia pun mengingatkan agar beban fiskal tidak berlebihan dialihkan ke bank sentral. Ketergantungan pada pembelian SBN dan intervensi valas dinilai bisa melemahkan fondasi moneter."Jika Bank Indonesia terlampau dipaksa untuk menyerap SBN dan terlampau sering opt valas, maka daya tahan moneter Indonesia akan terancam," ujarnya.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara melihat risiko besar justru pada ruang fiskal dan ketahanan energi."Ketahanan Indonesia dari sisi stok BBM cuma 20 hari, dari sisi fiskal defisitnya sudah hampir tembus 3 persen. Begitu harga minyak naik dan pasokan terganggu, tekanan ke APBN dan stok BBM menghitung hari," ujarnya.Ia juga menyoroti rapuhnya daya beli masyarakat. Tabungan dengan nominal kecil mengalami kontraksi. Ada juga pergeseran dari deposito ke giro. Perpindahan ini menunjukkan kecenderungan deposan mencari aman untuk menarik uang secara fleksibel ketika situasi ekonomi memburuk.Dari sisi pasar keuangan, Bhima memproyeksikan tekanan lanjutan pada rupiah. Mata uang Garuda bisa amblas ke Rp17.500 dalam waktu dekat. Devisa hanya didukung dari penerbitan utang valas, tapi akan berkurang untuk stabilisasi kurs.Tidak hanya itu, ia juga menilai Indonesia relatif lebih rentan dibanding beberapa negara ASEAN lain."Indonesia saat ini jadi negara yang rentan di ASEAN, dibanding Malaysia dan Vietnam, baik secara pertumbuhan ekonomi maupun ketahanan struktural," tegasnya.Lihat Juga :THR Pensiunan 2026 Kapan Cair? Ini Penjelasan PemerintahUntuk meredam tekanan fiskal, Bhima menilai pemerintah perlu bergerak cepat menyesuaikan postur anggaran. Ia mendorong revisi APBN 2026 disertai realokasi belanja sejumlah program agar ruang subsidi energi lebih memadai di tengah lonjakan harga minyak."Saran saya ada revisi APBN 2026 secepatnya, termasuk realokasi MBG dan Kopdes Merah Putih ke tambahan anggaran subsidi energi. Pastikan juga pembayaran kompensasi ke PLN dan Pertamina tepat waktu, sehingga BUMN bisa mitigasi dengan cashflow yang sehat," katanya.Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengingatkan kondisi domestik memang sudah kurang sehat sebelum konflik memanas. Indikatornya, fiskal lemah, rupiah tertekan, pasar modal punya masalah pengelolaan. Ia memperkirakan dampak perang Timur Tengah akan menjalar dari pasar keuangan ke sektor riil melalui kenaikan biaya dana."Pasar modal akan semakin melemah, rupiah semakin tertekan, industri keuangan akan melambat akibat cost of fund dan risiko yang meningkat, dan sektor riil melambat akibat cost of fund yang meningkat," katanya.Meski begitu, ia mengakui ada sisi positif dari struktur ekonomi Indonesia yang relatif berbasis domestik. Namun dari sisi fiskal, ia menilai Indonesia termasuk paling tertekan di kawasan.[Gambas:Photo CNN]"Ekonomi kita relatif domestic focus, tidak terlalu banyak perdagangan internasional," ujarnya.Sebagai langkah antisipasi, Wijayanto menekankan pentingnya menjaga inflasi agar tidak melonjak akibat kenaikan harga BBM."Memastikan harga BBM tidak melejit sehingga menimbulkan inflasi tinggi, kita harus ingat daya beli masyarakat masih terpuruk dan kita menghadapi moment Lebaran di mana inflasi relatif lebih tinggi," katanya.Ia juga mendorong perbaikan profil APBN dan kebijakan yang lebih predictable agar pelaku usaha tidak menahan ekspansi."Pemerintah perlu memperbaiki profil APBN, dengan melakukan pemangkasan program-program mahal, seperti MBG dan Kopdes Merah Putih. Pastikan defisit terjaga. Kemudian, kebijakan pemerintah perlu lebih predictable dan realistis. Iklim bisnis perlu diperbaiki secara serius agar swast tidak ketakutan menjalankan bisnis," pungkasnya.[Gambas:Video CNN]
Revisi APBN, Pangkas Program Mahal

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260305063315-532-1334454/dibayangi-perang-iran-seberapa-kuat-fondasi-ekonomi-ri-jegal-krisis
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.