Mendag Klaim Konflik Timteng Belum Ganggu Harga Pangan Indonesia
Judul: Mendag Klaim Konflik Timteng Belum Ganggu Harga Pangan Indonesia Jakarta, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut konflik geopolitik di Timur Tengah hingga kini...
Jakarta, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut konflik geopolitik di Timur Tengah hingga kini belum berdampak pada harga pangan di dalam negeri.Ia memastikan harga dan pasokan sejumlah komoditas masih terpantau stabil di berbagai daerah."Kalau kita ngomongin dampak perang sebenarnya enggak mengganggu kita di dalam negeri, apalagi kontribusi terbesar terhadap PDB (produk domestik bruto) itu kan belanja dalam negeri. Nah, itu yang harus kita jaga momentumnya supaya tidak banyak terganggu dari perang ini," kata Budi di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Kamis (5/3).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budi mengatakan pemerintah terus memantau kondisi harga pangan menjelang Lebaran melalui sistem pemantauan harga Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) dan pengecekan langsung ke sejumlah daerah. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, harga bahan pokok masih dalam kondisi normal.Lihat Juga :Biaya Logistik Melonjak Imbas Perang, Mendag Sasar Ekspor Negara Baru
"Kalau teman-teman lihat di SP2KP, kemarin saya ke Sulawesi, kemudian ke Pidie, Sigli di Aceh, lalu ke Tebing Tinggi di Sumatera. Pidie dan Tebing Tinggi ini wilayah yang terdampak banjir, tapi kami lihat harganya bagus, normal semua, pasokan juga enggak ada masalah," ujarnya.Ia menambahkan kondisi serupa juga terlihat di sejumlah kota lain seperti Makassar. Menurutnya, harga bahan pokok di pasar masih stabil sehingga harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah dinilai masih realistis.Selain memantau harga pangan domestik, pemerintah juga mengantisipasi potensi gangguan perdagangan akibat konflik geopolitik global yang dapat mengubah peta perdagangan internasional.Budi menjelaskan krisis geopolitik biasanya membuat rantai pasok global terganggu sehingga beberapa negara mengalami hambatan ekspor maupun impor. Kondisi tersebut justru dapat membuka peluang pasar baru bagi negara lain."Kalau krisis geopolitik itu biasanya merubah peta perdagangan. Ketika global supply chain terganggu, pasti ada negara yang ekspornya terhambat, termasuk juga impornya. Di situ sebenarnya ada celah pasar yang kosong," kata Budi.
Ia menyebut pemerintah berupaya memanfaatkan peluang tersebut dengan mendorong pelaku usaha, terutama usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), untuk menembus pasar-pasar baru yang tidak terdampak konflik.Program business matching yang dijalankan Kementerian Perdagangan kini mulai diarahkan ke sejumlah wilayah seperti Asia Tenggara dan Afrika. Pada Januari lalu, transaksi dari program tersebut tercatat mencapai sekitar US$4 juta."Sekarang yang Februari kami sudah memetakan negara-negara seperti Asia Tenggara dan Afrika untuk mengisi kekosongan tadi," ujarnya.Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Teheran pada akhir Februari lalu.Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintas di jalur tersebut. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global.Gangguan di jalur ini dikhawatirkan dapat memicu lonjakan harga energi dan mengganggu perdagangan internasional.Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah aktivitas perdagangan Indonesia dengan negara-negara di sekitar jalur Selat Hormuz masih berlangsung. Indonesia tercatat memiliki transaksi ekspor dan impor nonmigas dengan negara seperti Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA).[Gambas:Video CNN] (del/ins)
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260305173407-92-1334763/mendag-klaim-konflik-timteng-belum-ganggu-harga-pangan-indonesia
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
08 Apr 2026
Kepesertaan BPJS Kesehatan 58,32 Juta Orang Nonaktif
08 Apr 2026
Bank Mandiri Perkuat Pembangunan, Kredit Infrastruktur Tumbuh 30,8%
08 Apr 2026
Cadangan Devisa RI Susut ke US$148,2 M per Akhir Maret 2026
08 Apr 2026
Dipanggil DPR, Bos BI Siapkan Jurus Redam Tekanan Rupiah
08 Apr 2026
Tantangan UMKM RI Makin Berat di Tengah Ketidakpastian Global
08 Apr 2026
1 April, Ada 2 Permendag Terbaru Pangkas Hambatan dan Perizinan Ekspor