Sederet Bahaya Jika Kerek Harga BBM Saat Minyak Dunia Melesat
Judul: Sederet Bahaya Jika Kerek Harga BBM Saat Minyak Dunia Melesat Jakarta, Pemerintah diwanti-wanti tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) meski harga minyak dunia teru...
Jakarta, Pemerintah diwanti-wanti tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) meski harga minyak dunia terus melonjak akibat konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.Konflik di kawasan tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasar energi global, terutama karena potensi penutupan di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. Gangguan di jalur itu menghambat aliran minyak global, sehingga mendorong kenaikan harga energi.Kemarin (5/3), harga minyak Brent naik US$1,67 atau 2,05 persen menjadi US$83,07 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,94 atau 2,6 persen ke level US$76,60 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga minyak dunia tersebut sudah bergerak di atas asumsi Indonesia Crude Price (ICP) yang ditetapkan pemerintah sebesar US$70 per barel dalam APBN 2026.Lihat Juga :Panic Buying BBM Melanda Dunia Buntut Perang AS-Israel Vs Iran
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyebut setiap kenaikan US$1 pada ICP berpotensi menambah defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun.Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan defisit Rp6,8 triliun itu menunjukkan konflik Timur Tengah bisa langsung berdampak pada APBN Indonesia."Kenaikan ICP US$1 yang menambah defisit sekitar Rp6,8 triliun memperlihatkan bahwa perang Timur Tengah langsung mengubah APBN menjadi 'penyerap risiko energi'," kata Syafruddin kepada .com, Kamis (5/3).Dalam menyikapi kenaikan harga minyak global, ia mengingatkan pemerintah tidak mengambil langkah ekstrem seperti menaikkan harga BBM di dalam negeri secara serentak dan tajam.Lihat Juga :Ekspor 2.280 Ton Beras ke Saudi Besok Masih Tunggu Asesmen BIN CsSebab, hal tersebut berpotensi memicu lonjakan inflasi barang-barang lain, serta menekan daya beli masyarakat di tengah biaya logistik dan harga pangan yang sudah tinggi."Pemerintah juga tidak perlu memperbesar subsidi energi secara menyeluruh karena subsidi menyeluruh mengunci pemborosan, memperlebar defisit, dan melemahkan kredibilitas fiskal saat premi risiko global naik," ujar Syafruddin.Senada, Praktisi Migas Hadi Ismoyo mengatakan jika menaikkan harga BBM bukanlah sebuah solusi. Sebab, kondisi ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja serta daya beli masyarakat juga masih relatif rendah."Menaikkan BBM bukan solusi yg bijaksana karena bisa menimbulkan kemarahan rakyat dan demo berjilid-jilid. Menurut keyakinan saya, lebih bijaksana saat ini adalah menambah pagu subsidi," kata Hadi.Pemerintah nampaknya menangkap deretan bahaya menaikkan harga BBM saat harga minyak dunia terus melejit. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan belum ada rencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite meskipun harga minyak dunia terus meningkat."Belum [ada rencana menaikkan harga BBM subsidi]," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Menara Batavia, Jakarta Pusat, Kamis (5/3).Lihat Juga :Pengamat Ungkap Anomali Harga Emas saat Perang Timur Tengah PecahMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga menjamin harga BBM subsidi seperti belum akan naik, setidaknya hingga Lebaran."Kalau harga yang disubsidi, Pertalite, itu mau naik berapapun (harga minyak dunia) tetap harganya (di dalam negeri) sama sebelum ada perubahan dari pemerintah," katanya dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (3/3)."Sampai dengan kami rapat tadi belum ada (keputusan menaikkan harga BBM). Jadi aman-aman saja. Hari raya yang baik, puasa yang baik, insyaallah belum ada kenaikan harga BBM," imbuh Bahlil.Untuk BBM non-subsidi, Bahlil menjelaskan harganya mengikuti mekanisme pasar dan dapat berfluktuasi sesuai perkembangan harga minyak global.Jika menaikkan harga BBM belum menjadi solusi, strategi apa yang harus diambil pemerintah untuk mengatasi gejolak harga minyak global?Praktisi Migas Hadi Ismoyo menyarankan pemerintah melakukan efisiensi anggaran dengan menetapkan prioritas belanja yang lebih ketat. Ia juga mendorong penerapan program subsidi BBM dan LPG tepat sasaran serta percepatan konversi energi."Efesiensi subsidi bisa dilakukan dengan menerapkan program subsidi BBM/LPG tepat sasaran dan konversi BBM/LPG ke gas. khusus untuk motor dibuat program konversi BBM ke listrik," kata Hadi.Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai langkah yang lebih rasional adalah menjaga harga BBM bagi kelompok rentan dan sektor strategis melalui subsidi yang tepat sasaran. Ia juga menekankan pentingnya pengawasan distribusi energi agar tidak terjadi kebocoran subsidi.Menurutnya, efisiensi konsumsi perlu ditingkatkan agar setiap rupiah kompensasi benar-benar membeli stabilitas, bukan menambal 'pemborosan'."Dalam kondisi Hormuz macet dan diesel global mengetat, kebijakan yang presisi akan menahan gejolak sosial tanpa mengorbankan daya tahan APBN," ujar Syafruddin.[Gambas:Photo CNN]Di tengah ruang fiskal yang sempit, ia menyarankan pemerintah merealokasi anggaran di APBN, sebagai langkah awal untuk menjaga stabilitas energi dan ekonomi. Realokasi belanja bisa dari pemangkasan belanja yang rendah efek gandanya (multiplier), serta menunda proyek yang tidak mendesak.Nantinya, anggaran tersebut dapat dialihkan untuk memperkuat penyangga energi, pangan, dan logistik.Selain itu, pemerintah perlu menggenjot penerimaan dari hal yang bisa cepat dilakukan, misalnya melalui peningkatan kepatuhan pajak, penertiban impor dan cukai, serta optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari komoditas saat harga energi tinggi.Syafruddin juga memandang masih ada ruang untuk pemerintah menambah utang, dengan syarat harus menjaga persepsi pasar dengan strategi pembiayaan yang disiplin. Likuiditas pasar SBN juga perlu dijaga dan menghindari sinyal bahwa defisit melebar tanpa rencana keluar.Solusi penting lainnya, kata Syafruddin, reformasi subsidi energi perlu dipercepat agar beban APBN tidak otomatis meningkat setiap kali harga minyak dunia bergolak."Perang Timur Tengah menaikkan harga risiko, jadi pemerintah harus menunjukkan kendali anggaran dan kepastian kebijakan. Langkah itu akan menekan premi risiko, menahan yield, dan membantu rupiah tetap stabil," ujar Syafruddin.[Gambas:Video CNN]
Realokasi APBN hingga Reformasi Subsidi Energi
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260306070640-85-1334899/sederet-bahaya-jika-kerek-harga-bbm-saat-minyak-dunia-melesat
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
08 Apr 2026
Dipanggil DPR, Bos BI Siapkan Jurus Redam Tekanan Rupiah
08 Apr 2026
Tantangan UMKM RI Makin Berat di Tengah Ketidakpastian Global
08 Apr 2026
1 April, Ada 2 Permendag Terbaru Pangkas Hambatan dan Perizinan Ekspor
08 Apr 2026
Prabowo: Orang Kaya Kalau Mau Pakai BBM, Beli yang Mahal
08 Apr 2026
IHSG Meroket 4,42 Persen ke 7.279 Sore Ini, 623 Saham Menguat
08 Apr 2026
Pemerintah Rilis Buku 0% Jelaskan Transformasi Pengentasan Kemiskinan