Arab Saudi Pangkas Produksi Minyak di Tengah Gangguan Selat Hormuz
Judul: Arab Saudi Pangkas Produksi Minyak di Tengah Gangguan Selat Hormuz Jakarta, Perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco mulai memangkas produksi dua ladang minyaknya...
Jakarta, Perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco mulai memangkas produksi dua ladang minyaknya di tengah gangguan jalur pelayaran energi kawasan Teluk. Menurut dua sumber yang dikutip Reuters, pemangkasan produksi tersebut terjadi setelah jalur strategis Selat Hormuz terganggu akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, sehingga memicu serangkaian serangan di kawasan tersebut.Belum diketahui ladang minyak mana yang terdampak dan seberapa besar volume produksi yang dipangkas. Saudi Aramco menolak memberikan komentar terkait kebijakan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah pengurangan produksi oleh eksportir minyak terbesar dunia itu mencerminkan semakin beratnya hambatan logistik di kawasan sejak Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian merespons dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone, termasuk ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah fasilitas militer AS.Lihat Juga :Harga Minyak Anjlok 6% Usai Trump Ramal Perang Timteng Segera Mereda
Gangguan juga meluas ke negara-negara produsen minyak lain di kawasan. Kuwait Petroleum Corporation dilaporkan mengurangi produksi minyak dan menetapkan kondisi force majeure atau keadaan mendesak pada pengiriman.Qatar juga menghentikan produksi gas alam cair (LNG) di fasilitas ekspor Ras Laffan setelah serangan drone dan turut menyatakan force majeure.Sementara itu, produksi minyak dari ladang utama Irak di wilayah selatan disebut turun sekitar 70 persen karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. Perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab, ADNOC, juga mengurangi produksi lepas pantai, sedangkan perusahaan energi Bahrain, Bapco Energies, turut menetapkan kondisi force majeure.
Gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya tersebut mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan 2022, mendekati US$120 per barel.Arab Saudi diketahui telah mempercepat pengiriman minyak melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah dengan memanfaatkan pipa East-West. Namun para analis menilai volume pengalihan tersebut belum cukup untuk menggantikan jutaan barel minyak yang terhambat akibat penutupan jalur di kawasan Teluk.Kondisi ini berpotensi membuat konsumen dan pelaku usaha di seluruh dunia menghadapi harga bahan bakar yang tinggi selama berbulan-bulan ke depan, bahkan jika konflik di kawasan segera mereda, karena kerusakan infrastruktur dan gangguan logistik masih perlu waktu untuk pulih.[Gambas:Video CNN] (lau/ins)
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260310104726-85-1336240/arab-saudi-pangkas-produksi-minyak-di-tengah-gangguan-selat-hormuz
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
08 Apr 2026
Harga Minyak Amblas 10 Persen Usai Trump Umumkan Gencatan Senjata
08 Apr 2026
Usulan DPR Beli LPG 3 Kg Pakai Sidik Jari
08 Apr 2026
IHSG Diramal Rawan Terkoreksi Hari Ini
08 Apr 2026
Purbaya dan Danantara Buka Suara soal Kepemilikan Kereta Cepat Whoosh
08 Apr 2026
Harga Plastik Naik 60 Persen di Surabaya, UMKM Didesak Ganti Kemasan
08 Apr 2026
Siap Meluncur 2026, Kemenaker Garap Program Pelatihan Kerja Difabel