Ekonomi 09 Apr 2026 1 views

Mentan Dengar Curhat Petani Gula Impor Banjiri Pasar: Ini Membahayakan

Judul: Mentan Dengar Curhat Petani Gula Impor Banjiri Pasar: Ini Membahayakan Jakarta, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengaku menerima laporan dari petani mengenai...

Mentan Dengar Curhat Petani Gula Impor Banjiri Pasar: Ini Membahayakan
Judul: Mentan Dengar Curhat Petani Gula Impor Banjiri Pasar: Ini Membahayakan

Jakarta, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengaku menerima laporan dari petani mengenai gula rafinasi impor yang seharusnya diperuntukkan bagi kebutuhan industri, tetapi justru membanjiri pasar.
Kondisi tersebut muncul setelah terungkap produksi gula nasional masih menurun, sedangkan produk turunannya seperti molase justru sulit terserap pasar.
Amran mengungkap harga molase terus turun sejak awal 2025 hingga Maret 2026. Setelah sempat mencapai Rp1.980 per liter pada Februari 2025, harga melemah hingga sekitar Rp1.024 per liter pada Maret 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Produksi kita kurang, tapi molase gula tidak bisa laku. Di Jawa Timur itu terjadi di Oktober, tidak bisa laku. Ada anomali di situ," kata Amran dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (8/4).
Lihat Juga :
Hitungan Amran: Stok Beras 4,6 Juta Ton Cukup untuk 11 Bulan
Gula rafinasi yang seharusnya untuk kebutuhan industri justru masuk ke pasar konsumsi. Bahkan, menurut Amran, bukan sekadar bocor, tetapi membanjiri pasar.
"Kalau bocor (jumlahnya) sedikit. Ini banjir. Nah itu terjadi, kami langsung ditelepon, ada laporan dari petani, itu rafinasi yang langsung masuk ke lapangan, ke pasar," ujar Amran.
Amran mengatakan laporan banjir gula rafinasi datang dari sejumlah wilayah seperti Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Rembesan gula rafinasi tersebut kemudian dijual sebagai gula konsumsi.
Menurut dia, hal tersebut terjadi karena tingkat keputihan gula rafinasi impor memiliki standar International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis (ICUMSA) yang mirip dengan gula putih produksi lokal.
"Rembesannya kita ditangkap di Jawa Tengah, kemudian Kalimantan Selatan dan beberapa daerah lainnya. Gula rafinasi, tetapi dimasukkan ke pasar sebagai white sugar atau gula konsumsi. Ini membahayakan," ujar Amran.
Lihat Juga :
Prabowo: BBM Bersubsidi Kita Pertahankan Untuk Rakyat Kecil
Selain itu, Amran juga menemukan tebu ratoon sudah dalam kondisi tidak layak produksi sebesar 70 hingga 80 persen.
Ia mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah mengarahkan pembongkaran ratoon seluas 300 ribu hektare dari total sekitar 500 ribu hektare tanaman lama.
Rencana bongkar akan dilakukan bertahap sekitar 100 ribu hektare per tahun selama tiga tahun. Anggaran yang disiapkan untuk 2025 sebesar Rp1,7 triliun. Tahun ini, ia tidak menjelaskannya secara detail.
Melalui revitalisasi ini, pemerintah menargetkan Indonesia bisa swasembada gula putih paling lambat pada 2027.
Amran menyebut saat ini selisih antara produksi dan kebutuhan gula konsumsi nasional tinggal sekitar 200 ribu ton. Produksi gula berada di kisaran 2,6 juta ton-2,7 juta ton, sedangkan konsumsi mencapai sekitar 2,8 juta ton-2,9 juta ton per tahun.
(dhz/sfr)
Add
as a preferred source on Google

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260408143118-92-1345602/mentan-dengar-curhat-petani-gula-impor-banjiri-pasar-ini-membahayakan
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.