Ekonomi 14 May 2026 7 views

Permintaan Emas Global Kuartal I 2026 Naik 74 Persen, Tembus Rp3.000 T

Jakarta – World Gold Council (WGC) melaporkan bahwa nilai permintaan emas global mencapai rekor baru US$193 miliar atau sekitar Rp3.000 triliun pada kuartal I 2026. Angka ini melon...

Permintaan Emas Global Kuartal I 2026 Naik 74 Persen, Tembus Rp3.000 T
Jakarta – World Gold Council (WGC) melaporkan bahwa nilai permintaan emas global mencapai rekor baru US$193 miliar atau sekitar Rp3.000 triliun pada kuartal I 2026. Angka ini melonjak 74 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Meskipun demikian, dari sisi volume, permintaan emas global hanya menunjukkan pertumbuhan moderat sebesar 2 persen secara tahunan (yoy). Shaokai Fan, Global Head of Central Banks World Gold Council, menjelaskan bahwa total permintaan emas pada kuartal I 2025 tercatat 1.205 ton, kemudian naik tipis menjadi 1.231 ton di kuartal I 2026.

"Meski volume tumbuh moderat, nilai permintaan melonjak ke angka rekor US$193 miliar, naik 74 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujar Shaokai saat menyampaikan laporan Gold Demand Trends Q1 2026 secara virtual, Rabu (13/5).

Shaokai menambahkan, para investor ritel di hampir seluruh dunia terpikat oleh momentum harga dan daya tarik emas sebagai aset aman (safe-haven). Hal ini mendorong permintaan emas batangan dan koin naik signifikan sebesar 42 persen (yoy) menjadi 474 ton.

Sebagai contoh, permintaan di China meroket 67 persen (yoy) mencapai rekor 207 ton, jauh melampaui rekor kuartalan sebelumnya sebesar 155 ton pada kuartal II 2013. Pasar Asia lainnya, seperti India, Korea Selatan, dan Jepang, juga mencatatkan peningkatan pembelian emas batangan dan koin. Fenomena ini turut berkontribusi pada pergeseran struktural yang sedang berlangsung dalam permintaan emas global.

Di Indonesia, permintaan emas batangan dan koin tumbuh pesat sebesar 47 persen secara tahunan. Peningkatan ini mencerminkan tren global di mana status emas sebagai *safe-haven* menarik minat investor yang khawatir terhadap ketidakpastian ekonomi dan inflasi.

"Secara historis, emas telah terbukti sebagai salah satu instrumen lindung nilai krisis paling andal bagi masyarakat Indonesia. Selama Krisis Finansial Asia 1997-1998, emas membantu mempertahankan daya beli masyarakat saat Rupiah terdepresiasi tajam, pola yang terus berulang setiap terjadi pelemahan mata uang dan pasar tertekan," jelas Shaokai.

Di sisi lain, volume permintaan perhiasan justru turun tajam 23 persen (yoy) menjadi 300 ton sebagai respons terhadap tingginya harga. Penurunan ini terjadi di seluruh pasar utama, termasuk China (-32 persen), India (-19 persen), Timur Tengah (-23 persen), dan Indonesia (-20 persen).

Meski demikian, Shaokai mencatat bahwa secara nilai, pengeluaran untuk perhiasan justru meningkat. "Ini menandakan konsumen tetap bersedia berinvestasi pada emas meski harga berada di level rekor," pungkasnya.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260513140547-92-1358241/permintaan-emas-global-kuartal-i-2026-naik-74-persen-tembus-rp3000-t
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.