Ekonomi 16 May 2026 10 views

Rupiah Tembus Rp17.600, Masihkah Tepat Investasi Dolar?

Jakarta, Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp17.614 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5). Posisi tersebut menjadi titik terlemah mata uang Garuda sepanjang sejarah.Pelemahan...

Rupiah Tembus Rp17.600, Masihkah Tepat Investasi Dolar?
Jakarta, Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp17.614 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5). Posisi tersebut menjadi titik terlemah mata uang Garuda sepanjang sejarah.Pelemahan rupiah yang terus berlanjut membuat minat masyarakat terhadap investasi valas khususnya dolar AS ikut meningkat.Di tengah ketidakpastian global dan tekanan terhadap rupiah, dolar dinilai menjadi salah satu instrumen "safe haven" yang kerap diburu untuk menjaga nilai aset.

Namun, kenaikan kurs dolar juga memunculkan pertanyaan baru bagi masyarakat, terutama investor pemula. Apakah saat ini masih menjadi waktu yang tepat untuk mulai membeli dolar, atau justru terlalu terlambat?Lihat Juga :EDUKASI KEUANGANStrategi Cuan Maksimal dari Obligasi Saat Ekonomi Global Morat-marit

Lantas, bagaimana cara memulai investasi dolar di tengah kurs yang sedang tinggi? Apa saja yang perlu diperhatikan pemula agar tidak salah langkah? Berikut sejumlah hal yang perlu dicermati sebelum mulai berinvestasi dolar.1. Tepatkan Investasi Dolar saat Kurs Tinggi?Perencana Keuangan Aidil Akbar Madjid menilai investasi dolar masih bisa dipertimbangkan, terutama di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan domestik.Menurut Aidil, pergerakan dolar saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi di dalam negeri."Sekarang ini masyarakat Indonesia sedang berada di titik terendah terhadap tingkat kepercayaan pada pemerintahannya. Kondisi semakin penuh ketidakpastian," ujar Aidil kepada .com, Kamis (14/5).Ia menilai kondisi tersebut membuat dolar masih berpotensi bertahan di level tinggi dalam waktu dekat."Kalau ini tidak ada perubahan signifikan di luar intervensi Bank Indonesia maupun Kementerian Keuangan, saya masih melihat dolar cukup kuat bertengger di angka Rp17.400-Rp17.500, bahkan kecenderungannya bisa melemah lagi (rupiahnya)," katanya.Karena itu, menurut Aidil, membeli dolar saat ini masih memungkinkan dilakukan, termasuk bagi investor pemula.Lihat Juga :EDUKASI KEUANGANMasih Cuankah Berinvestasi Mata Uang Asing di Tengah Gejolak Dunia?2. Pastikan Dana Darurat dan Cashflow AmanMeski begitu, Aidil mengingatkan investasi dolar tetap memiliki risiko fluktuasi nilai tukar. Karena itu, kondisi keuangan pribadi harus dipastikan sehat terlebih dahulu sebelum mulai membeli dolar.Menurutnya, pemula perlu memastikan sudah memiliki dana darurat, arus kas (cashflow) yang stabil, serta dana lebih yang memang siap diinvestasikan."Apakah dia sudah punya emergency fund, kemudian apakah investasi dolarnya bagian dari dana darurat, kondisi cashflow-nya oke atau tidak, apakah ada kelebihan dana setiap bulannya yang bisa diinvestasikan," ujarnya.Ia menegaskan nilai dolar tetap bisa turun sewaktu-waktu jika muncul sentimen positif terhadap ekonomi domestik."Kalau ternyata mereka investasi sekarang terus dolarnya turun ke Rp16.500, berarti akan ada kerugian dalam jangka pendek. Jadi harus siap dulu dengan risiko turunnya nilai dolar," katanya.Lihat Juga :EDUKASI KEUANGANSaham Nyangkut saat IHSG Jatuh, Dijual atau Ditahan?3. Pilih Instrumen LikuidDi tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, Aidil menyarankan pemula memilih instrumen yang likuid atau mudah dicairkan.Menurutnya, dolar fisik maupun simpanan valas menjadi pilihan yang relatif fleksibel karena bisa digunakan sewaktu-waktu atau dijual saat harga naik."Kalau saya melihatnya sekarang lebih baik pegang yang liquid, artinya dolar fisik atau valas," ujarnya.Aidil mengatakan instrumen yang likuid memudahkan investor mengambil keuntungan ketika kurs dolar mengalami kenaikan signifikan."Kalau tiba-tiba harganya naik ke Rp18 ribu atau Rp20 ribu per dolar AS, bisa juga take profit di situ," katanya.Meski demikian, ia mengingatkan penyimpanan dolar fisik perlu dilakukan secara hati-hati karena uang dolar cukup sensitif terhadap kerusakan fisik.Lihat Juga :EDUKASI KEUANGANMasih Perlukah Investasi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global?4. Cocok untuk Jangka Pendek hingga PanjangAidil menilai investasi dolar cukup fleksibel karena bisa digunakan untuk kebutuhan jangka pendek maupun panjang.Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, dolar dinilai cocok menjadi instrumen lindung nilai jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, dolar juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pendidikan luar negeri atau dana darurat."Dolar ini hampir sama seperti emas. Disimpan jangka panjang pun enggak masalah karena rata-rata kenaikannya sekitar 5-6 persen per tahun," ujarnya.Menurut Aidil, kenaikan dolar secara historis relatif setara dengan imbal hasil obligasi pemerintah.5. Hindari Beli All InAidil juga mengingatkan investor pemula agar tidak langsung membeli dolar dalam jumlah besar sekaligus di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif.Ia menyarankan pembelian dilakukan secara bertahap atau menggunakan metode dollar cost averaging agar risiko kerugian bisa ditekan."Jangan langsung beli all in. Dicicil saja supaya kalau tiba-tiba dolar turun, kerugiannya enggak terlalu besar," katanya.6. Investasi Dolar Harus Punya Tujuan JelasSementara itu, Perencana Keuangan OneShildt Consulting Agustina Fitria menilai investasi dolar sebaiknya dilakukan dengan tujuan keuangan yang jelas.Menurut Fitria, investasi berbasis dolar akan lebih relevan jika memang digunakan untuk kebutuhan dalam mata uang asing, seperti biaya pendidikan atau liburan ke luar negeri.Lihat Juga :EDUKASI KEUANGANTips Berhemat Tanpa Tersiksa, Jurus Penting di Tengah Gejolak Harga"Investasi apa pun sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang dan tujuan yang terarah," ujar Fitria kepada .com.Ia juga menilai masyarakat yang memiliki penghasilan dalam dolar tidak perlu terlalu fokus pada naik-turunnya kurs untuk mulai berinvestasi."Jika sumber pemasukan dalam dolar, maka juga bisa langsung diinvestasikan dalam dolar tanpa melihat apakah dolar sedang naik atau turun," katanya.7. Jangan Terlalu Lama Menunggu Kurs TurunFitria mengatakan salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah terlalu lama menunggu momentum kurs turun.Akibatnya, dana yang semula disiapkan untuk investasi justru habis untuk kebutuhan konsumtif sehari-hari."Yang sering terjadi adalah menunggu momentum dolar turun baru berinvestasi, malah uangnya sudah keburu terpakai untuk konsumsi," ujarnya. 8. Reksa Dana dan Obligasi Bisa Jadi AlternatifSelain tabungan valas, Fitria mengatakan investor juga bisa mempertimbangkan instrumen lain seperti obligasi dolar dan reksa dana dolar.Menurutnya, obligasi dolar memiliki keunggulan berupa imbal hasil tetap atau kupon. Namun investor perlu memperhatikan rating penerbit dan risiko jika obligasi dijual sebelum jatuh tempo."Menjual obligasi sebelum jatuh tempo berisiko penurunan harga dan juga kesulitan likuiditas," katanya.Sementara itu, reksa dana dolar dinilai lebih likuid dan memiliki risiko yang lebih terdiversifikasi dibanding obligasi."Keuntungan reksa dana biasanya diperoleh dari kenaikan NAB saat dijual," pungkas Fitria.

Hindari Beli All In hingga Instrumen Alternatif

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260515172257-83-1358924/rupiah-tembus-rp17600-masihkah-tepat-investasi-dolar
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.