Ekonomi 20 May 2026 4 views

Bursa Saham Global Mulai Stabil, Kenapa IHSG Masih Terus Rontok?

Jakarta, Pasar saham Indonesia kembali berada dalam tekanan besar di tengah meredanya gejolak di bursa global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 3,46 persen ke level 6.370...

Bursa Saham Global Mulai Stabil, Kenapa IHSG Masih Terus Rontok?
Jakarta, Pasar saham Indonesia kembali berada dalam tekanan besar di tengah meredanya gejolak di bursa global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 3,46 persen ke level 6.370 pada penutupan perdagangan Selasa (19/5) dan menjadi salah satu indeks dengan performa terburuk di kawasan Asia.Tercatat, mayoritas bursa saham di kawasan Asia terpantau bergerak di zona hijau. Indeks Hang Seng Composite di Hong Kong menguat 0,48 persen, indeks Shanghai Composite di China plus 0,92 persen, dan indeks Straits Times di Singapura naik 1,21 persen. Di sisi lain, indeks Nikkei 225 di Jepang melemah 0,44 persen, jauh lebih rendah dari IHSG.Di bursa saham Eropa, DAX di Jerman menguat 1,37 persen dan indeks FTSE 100 di Inggris plus 0,75 persen.

Mayoritas bursa relatif stabil, bahkan sebagian berhasil menguat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran. Sentimen global yang semula membebani pasar perlahan mereda, harga minyak turun, imbal hasil obligasi global melandai, dan pasar Eropa menghijau.Lihat Juga :Stok Melimpah, Bulog Usul PNS Dapat Beras Natura 2,8 Juta Ton

Di tengah membaiknya kondisi bursa saham lain, IHSG justru rontok. Kondisi ini memunculkan pertanyaan, apakah investor mulai kehilangan kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia, bahkan setelah sejumlah perbaikan yang dilakukan otoritas pasar modal RI?Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai tekanan yang terjadi kali ini menunjukkan masalah domestik mulai jauh lebih dominan dibanding sentimen eksternal."Ini menunjukkan tekanan terhadap pasar domestik saat ini bukan hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga mencerminkan mulai rapuhnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas pasar keuangan Indonesia dalam jangka pendek," kata Hendra kepada .com.Menurutnya, jika faktor global mulai mereda tetapi IHSG tetap runtuh, maka pasar sedang menunggu kepastian arah ekonomi nasional. Investor dinilai mulai mempertanyakan stabilitas rupiah, arah kebijakan fiskal, hingga kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar."Pelemahan IHSG kali ini juga tergolong cukup serius karena terjadi hampir merata di berbagai sektor, terutama basic industry yang anjlok hingga 7,30 persen," ujarnya.Lihat Juga :BPH Migas: Ketahanan Stok BBM Pertalite 16 Hari, Pertamax 27 HariSaham-saham berkapitalisasi besar seperti TPIA, BRPT, INKP, TKIM hingga SMGR mengalami tekanan jual agresif.

Hendra melihat kondisi tersebut mengindikasikan adanya aksi pengurangan risiko besar-besaran oleh investor institusi maupun asing.Di saat yang sama, saham berbasis komoditas dan energi juga ikut tertekan akibat turunnya harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan di zona hijau, karena dinilai lebih defensif di tengah tingginya ketidakpastian pasar.Selain tekanan di pasar saham, perhatian investor kini juga tertuju pada nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda kembali melemah dan tembus ke level Rp17.700 per dolar AS.Menurut Hendra, pelemahan rupiah menjadi alarm penting karena berdampak langsung terhadap inflasi impor, beban utang luar negeri korporasi, hingga risiko fiskal pemerintah.

Kombinasi pelemahan rupiah dan keluarnya dana asing dari pasar saham dinilai menjadi skenario yang sangat diwaspadai investor."Ketika rupiah terus melemah bersamaan dengan keluarnya dana asing dari pasar saham, maka tekanan terhadap IHSG biasanya akan menjadi lebih besar," jelasnya.Lihat Juga :Gantikan LPG 3 Kg, Pemerintah Siap Impor 100 Ribu Tabung CNG ChinaIa menilai pidato Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR hari ini (20/5) akan menjadi momentum penting yang akan dicermati pasar. Investor menunggu kejelasan arah kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan.Apabila pidato Prabowo mampu memberikan kejelasan arah kebijakan, disiplin fiskal, serta sinyal keberpihakan terhadap stabilitas pasar dan dunia usaha, maka sentimen pasar berpotensi membaik dan IHSG berpeluang bangkit. Namun, jika pasar menilai belum ada langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan investor, maka tekanan masih berpotensi berlanjut.Secara teknikal, Hendra menyebut area 6.300 menjadi level psikologis penting bagi IHSG.

Jika level tersebut mampu dipertahankan, peluang rebound menuju area 6.500 hingga 6.535 masih terbuka.Namun jika support itu ditembus, pasar dinilai bisa masuk ke fase krisis kepercayaan jangka pendek yang lebih dalam. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung memilih saham berfundamental kuat dan lebih defensif terhadap pelemahan ekonomi."Pidato Presiden berpotensi menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan apakah pasar mulai menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah," tegasnya. Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai tekanan terhadap IHSG juga dipicu reformasi pasar modal yang dilakukan regulator sejak awal 2026.Menurutnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebenarnya telah menjalankan berbagai langkah pembenahan, mulai dari pengetatan aturan free float, peningkatan transparansi data kepemilikan saham, hingga publikasi high shareholding concentration.Namun reformasi tersebut justru memunculkan 'short term pain' di pasar, di mana efeknya membuat investor lebih hati-hati dalam melihat saham yang ingin dikoleksi."OJK dalam benahi pasar modal memang justru membuat beberapa emiten dengan kapitalisasi jumbo yang dinilai belum memenuhi kriteria kepemilikan publik yang ideal menurut standar global, itu memang justru efeknya membuat para pelaku pasar lebih cenderung prudent (hati-hati)," kata Nafan.Ia melihat pasar kini menjadi jauh lebih waspada, terutama investor institusi asing yang sangat sensitif terhadap isu good corporate governance.

Kondisi itu diperparah oleh keputusan MSCI membekukan penambahan konstituen baru dari Indonesia sejak awal tahun."Hal ini memicu kecemasan investor institusi asing yang memang sangat sensitif terhadap good corporate governance, tapi ini reformasi yang dijalankan oleh OJK dan SRO ini secara fundamental bagus in the long run. Kalau secara jangka pendek, wajar karena ada penyesuaian," imbuhnya. Tekanan terbesar, kata Nafan, muncul setelah MSCI merilis semiannual index review pada 13 Mei lalu.

Dalam rebalancing tersebut, MSCI mengeluarkan enam saham blue chip dari MSCI Global Standard Index dan 13 saham dari MSCI Global Small Cap Index.Keputusan itu memang baru berlaku efektif mulai 29 Mei 2026, tetapi sudah memicu arus keluar dana asing dari pasar domestik sekitar Rp50 triliun secara year to date (ytd)."Jadi memang penurunan IHSG secara signifikan memang sangat didominasi oleh dinamika pengumuman MSCI," katanya.Untuk meredam tekanan lebih lanjut, Nafan menilai perlu adanya sinergi kebijakan antarotoritas yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Pemerintah perlu masuk lebih agresif ke pasar obligasi untuk menjaga stabilitas yield surat utang negara dan mencegah keluarnya modal asing."Beberapa instrumen yang memang harus dioptimalkan, antara lain misalnya intervensi masif di pasar obligasi misalnya, karena kita tahu bahwasannya Menkeu Purbaya harus merealisasikan komitmen untuk masuk secara signifikan ke pasar SBN. Jadi pemerintah membeli obligasi, tujuannya untuk menjaga stabilitas yield dan mencegah kaburnya modal asing dari pasar obligasi," terangnya.Selain itu, Bank Indonesia juga dinilai perlu mengoptimalkan triple intervention serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) demi menjaga stabilitas rupiah.Di sisi lain, langkah OJK menunda penerapan short selling hingga September 2026 dan membuka ruang buyback saham tanpa RUPS dinilai sudah tepat untuk menjaga stabilitas pasar.Meski tekanan masih besar, Nafan menilai reformasi pasar modal yang dilakukan regulator tetap penting dalam jangka panjang.

Namun dalam jangka pendek, pasar masih akan menghadapi fase penyesuaian yang tidak mudah."Secara fundamental bagus in the long run, kalau secara jangka pendek ya wajar karena ada penyesuaian," pungkasnya.

Ambruk Usai Perbaikan

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260520073411-92-1360211/bursa-saham-global-mulai-stabil-kenapa-ihsg-masih-terus-rontok
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.