Gaya Hidup 01 Mar 2026 9 views

Masjid Tjia Khang Hoo, Toleransi di Balik Corak Tionghoa dan Betawi

Judul: Masjid Tjia Khang Hoo, Toleransi di Balik Corak Tionghoa dan Betawi Jakarta, Di sudut Pasar Rebo, Jakarta Timur, sebuah bangunan menjadi simbol harmonisasi dan toleransi um...

Masjid Tjia Khang Hoo, Toleransi di Balik Corak Tionghoa dan Betawi
Judul: Masjid Tjia Khang Hoo, Toleransi di Balik Corak Tionghoa dan Betawi

Jakarta, Di sudut Pasar Rebo, Jakarta Timur, sebuah bangunan menjadi simbol harmonisasi dan toleransi umat beragama. Masjid Tjia Khang Hoo, rumah ibadah umat Muslim bergaya arsitektur Tionghoa yang lokasinya di samping gereja dan vihara.
Masjid Tjia Khang Hoo dibangun di tengah lingkungan yang mayoritas penduduknya non-muslim. Tepatnya di Jalan H Soleh RT 002/RW 07 Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Masjid ini memiliki daya tarik tersendiri, yaitu bangunannya yang sangat kental dengan ornamen Tionghoa.
Masjid tersebut mulai dibangun pada 2022, oleh salah satu anak Tjia Kang Ho bernama Budiyanto Tjia. Selepas kepergian ayahanda, Budiyanto mewakafkan tanah milik mendiang Tjia Kang Ho untuk dijadikan masjid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adik Budiyanto, Jimmy Gouw menceritakan kepada .com bahwa keluarganya ini adalah keturunan Tionghoa yang menetap di Indonesia sejak abad ke-16. Mereka adalah generasi keenam dari moyangnya yang menikah dengan orang Betawi.
Proses pembangunan masjid masih berlangsung hingga hari ini, dan sudah memasuki tahap akhir. Dibangun di atas lahan seluas 793 meter persegi dengan luas rumah ibadah umat Muslim ini memadukan konsep budaya Betawi dan Tionghoa.
Pilihan Redaksi
Masjid Mungsolkanas, Filosofi di Balik Nama Masjid Tertua di Bandung
Masjid Baru di PIK Berhiaskan Keran Air Emas hingga 8 Pohon Kurma
Kisah Harmoni Masjid Tertua di Bali, Dibangun Sejak Abad ke-14
Bagian yang paling menarik dari Masjid Tjia Khang Hoo adalah arsitekturnya tersebut, sekilas terlihat seperti klenteng karena bangunannya didominasi warna merah dan emas, serta memiliki pagoda di bagian atapnya.
Setiap pagoda memiliki filosofi yang bermakna di baliknya. Bagian atap masjid memiliki lima pagoda, ini melambangkan lima rukun Islam. Pagoda di atap induknya terdiri dari tiga susun, mengartikan kerangka dari agama Islam (Iman, Islam, Ihsan).
Sementara pagoda kecilnya terdiri dari dua susun, menyiratkan makna bahwa untuk mendapat kebahagiaan dunia akhirat, perlu menjalin hubungan yang baik dengan Allah dan makhluknya.
Hubungan yang baik sesama antar makhluk dan umat beragama ini benar-benar nyata dalam kehidupan masyarakat di sekitar Masjid Tjia Khang Hoo.
Ketua Dewan Kemakmuran (DKM) Masjid Tjia Khang Hoo, Muhammad Wildan Hakiki (anak dari Budiyanto) mengatakan bahwa penduduk di sini selalu menjaga hubungan yang harmonis.
Hal itu karena sang kakek merupakan penduduk asli di daerah sana, keluarga, dan warga sekitar juga mendukung pembangunan masjid tersebut sehingga tidak pernah ada gesekan hingga saat ini.
Harmonisasi dan toleransi umat beragama juga semakin terasa, terlebih lagi letak Masjid Tjia Khang Hoo yang berdekatan dengan rumah ibadah lainnya. Di samping masjid tersebut ada sebuah gereja, sementara tak jauh dari sana juga bisa ditemui vihara.
Jika Masjid Tjia Khang Hoo menggelar kegiatan keagamaan Islam, warga sekitar selalu ikut berpartisipasi dan membantu penyelenggaraan acara meskipun mayoritas dari mereka non-Muslim. Begitupun ketika merayakan kegiatan keagamaan lain, sebagai hubungan timbal balik Masjid Tjia Khang Hoo juga akan menerima undangan kolaboratif dari rumah ibadah lain.
Masjid Tjia Khang Hoo berkomitmen untuk turut menjaga keragaman antar budaya di sana. Jadi setiap menjelang Imlek, jalanan menuju Masjid Tjia Khang Hoo sampai pintu masuknya akan dihiasi dengan warna-warni dari lampion dan lentera.
"Jadi insyaallah nanti kita sepanjang jalan itu kita mau masang lampion untuk menyambut tahun baru Imlek. Seperti saya bilang, sebenarnya kayak lampion itu enggak ada arti makna apa-apa. Itu kan hanya seni lah kita bilang gitu," ujar Wildan, Jumat (13/2), mengutip Detik.
Bahkan pada 1 Oktober 2023, ada 38 Bhante dari Thailand yang dijamu di Masjid Tjia Khang Hoo. Para Bhante sedang melakukan ritual Thudong di Indonesia, kemudian diundang untuk singgah ke Masjid Tjia Khang Hoo.
"Waktu itu kita pernah kedatangan Bhante dari Thailand. Mereka sebenarnya mampir ke Vihara sebelah, tapi kita undang mereka untuk silaturahmi ke masjid kita," kata Jimmy kepada .com beberapa waktu silam.
Sementara itu, setiap harinya masjid ini dipadati oleh kegiatan keagamaan Islam. Mulai dari jadwal ceramah, diskusi fikih, tajwid Al-Quran setiap hari Senin, hingga sesi rutin Yasinan. Sementara di hari Minggu, ada program menarik yang digelar yaitu pengajian khusus mualaf.
Menurut Wildan, program ini memberikan dukungan kepada para mualaf di komunitas lokal, termasuk salah satu anggota keluarganya yang baru saja memeluk agama Islam. Para mualaf akan dibimbing oleh ustaz yang penuh kesabaran, untuk belajar tentang Islam dan menjadi seorang Muslim yang baik.
Harmonisasi Umat Beragama Sangat Terasa di Sekitar Masjid Tjia Khang Hoo

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260227143028-269-1332501/masjid-tjia-khang-hoo-toleransi-di-balik-corak-tionghoa-dan-betawi
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.