Gaya Hidup 01 Mar 2026 6 views

Seuntai Kisah Ramadan dari Tempat yang Damai, Brunei Darussalam

Judul: Seuntai Kisah Ramadan dari Tempat yang Damai, Brunei Darussalam Jakarta, Sudah lebih dari seperempat abad waktu berjalan sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di tanah...

Seuntai Kisah Ramadan dari Tempat yang Damai, Brunei Darussalam
Judul: Seuntai Kisah Ramadan dari Tempat yang Damai, Brunei Darussalam

Jakarta, Sudah lebih dari seperempat abad waktu berjalan sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di tanah Brunei Darussalam. Sejak tahun 1999, Brunei telah menjadi rumah kedua bagi saya, istri, dan ketiga anak kamu yang semuanya lahir di sini.Sebagai seorang guru sekolah rendah (setara Sekolah Dasar), saya menyaksikan bagaimana waktu bergerak dengan tenang di sini. Hampir tidak ada motor, pun nyaris tak ada angkutan umum yang berjejalan di jalan. Semua orang di sini melaju perlahan dengan mobilnya masing-masing, mematuhi aturan tanpa perlu diawasi ketat.Namun, suasana yang tenang itu akan berubah menjadi hangat dan hidup ketika hilal Ramadan menampakkan diri. Di Brunei, kegiatan Sahur Sahur adalah momen privat di rumah, atau momen sakral di masjid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sini, jangan coba-coba makan atau minum di tempat umum saat siang hari. Aturan hukum Syariah di sini sangat ketat. Restoran hanya boleh melayani pesanan takeaway atau "tapau" setelah pukul tiga sore.Pilihan RedaksiMenyusuri Jalan al-Mu'iz di Kairo, Bagai Berada di Museum TerbukaSabai Sabai dan Hidup yang Tak Perlu Terburu-buru di LaosKisah Komunitas Kecil di Pulau Selatan Inggris Merayakan IndonesiaJika nekat makan di tempat umum, denda puluhan juta rupiah menanti, baik bagi si pemakan maupun pemilik restoran. Ketegasan inilah yang menurut saya menciptakan rasa hormat dan tertib yang luar biasa. Di setiap masjid, sepanjang bulan suci, tersedia hidangan buka puasa untuk siapa saja. Tak peduli Anda orang lokal, perantau Indonesia seperti saya, pekerja India, atau Bangladesh, semua duduk bersama di bawah kemah yang disusun rapi 15 menit sebelum azan Magrib berkumandang.Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah puncak kemeriahan spiritual kami. Bayangkan, pukul tiga pagi, alih-alih bersiap di meja makan rumah, banyak warga justru berbondong-bondong menuju masjid untuk qiyamullail. Di sana, pemerintah Brunei menyediakan sahur gratis dan fasilitas ibadah yang mumpuni.Lebaran yang Berumur Satu BulanAgak berbeda dengan di Indonesia, di Brunei, Lebaran berlangsung selama satu bulan. Syawal adalah perayaan maraton. Kami merayakan Idulfitri selama satu bulan penuh!Setiap rumah akan mengadakan open house secara bergantian sepanjang bulan Syawal. Anak-anak saya sangat betah di sini karena alasan itu. Mereka bisa berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya, menyantap rendang, sate, dan tentu saja lemang, pengganti ketupat yang menjadi primadona di meja makan orang Melayu Brunei.Namun, momen yang paling dinanti oleh setiap perantau dan warga lokal adalah hari raya kedua dan ketiga. Pintu Istana Nurul Iman akan terbuka lebar bagi siapa saja. Puluhan ribu orang mengantre, bukan hanya untuk menikmati jamuan istana yang mewah, tetapi untuk satu tujuan sakral: bersalaman langsung dengan Sultan Hassanal Bolkiah.
Tak ada batasan bangsa atau agama. Orang Indonesia, Filipina, Tionghoa, Muslim maupun non-Muslim, semua dipersilakan masuk dan disapa dengan ramah oleh keluarga kerajaan. Di momen itulah, aku merasa bahwa sekat-sekat kewarganegaraan seolah lebur oleh rasa hormat yang mendalam kepada pemimpin yang begitu mencintai rakyatnya.Rasa Syukur di Brunei dan Kerinduan Kampung HalamanHidup saya di Brunei adalah hidup yang diliputi rasa syukur. Sebagai guru, saya melihat betapa pemerintah Brunei sangat memanjakan warganya. Pendidikan gratis, kesehatan gratis, bahkan kebutuhan pokok seperti beras dan bensin disubsidi hingga harganya tak pernah naik sejak aku datang tahun 1999. Anak-anak saya pun merasakan fasilitas pengobatan gratis hingga usia 12 tahun.Meski begitu, rantau tetaplah rantau. Terkadang ada kerinduan akan kampung halaman saya di Palembang berserta aroma pempek dengan cukonya yang mantap atau keinginan sederhana untuk berziarah ke makam orang tua yang telah tiada.Tahun ini, saya memutuskan untuk tidak pulang ke Indonesia karena putri sulung saya, yang kini bekerja sebagai bidan di salah satu rumah sakit di Brunei, belum mendapatkan jadwal cuti.Kami harus bergantian. Jika kami tidak pulang, biasanya keluarga dari Indonesia yang akan terbang ke sini, hanya dua jam perjalanan dari Jakarta. Dua anak saya tinggal di Indonesia.Brunei mungkin bukan tempat bagi mereka yang mencari hiburan malam atau keriuhan kota metropolis. Namun, bagi saya yang mencari kedamaian, keamanan, dan lingkungan yang kondusif untuk membesarkan anak, negeri ini adalah pelabuhan yang sempurna.Di sini, saya belajar bahwa bahagia itu sederhana: cukup dengan rasa aman saat berjalan di malam hari dan hangatnya persaudaraan di tiap gelas teh saat berbuka puasa.
Tempat yang Aman dan Damai

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260227162604-269-1332562/seuntai-kisah-ramadan-dari-tempat-yang-damai-brunei-darussalam
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.