Kenali 3 Tahap Gejala Campak agar Tak Salah Diagnosis
Judul: Kenali 3 Tahap Gejala Campak agar Tak Salah Diagnosis Daftar Isi 1. Stadium prodromal: demam tinggi dan 3C 2. Stadium erupsi: ruam menyebar bertahap 3. Stadium konvalesens:...
Daftar Isi
1. Stadium prodromal: demam tinggi dan 3C
2. Stadium erupsi: ruam menyebar bertahap
3. Stadium konvalesens: menggelap dan mengelupas
Sangat mudah menular
Jakarta, Campak memiliki tiga tahap gejala khas yang perlu diwaspadai. Mengenali setiap fasenya penting agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat sekaligus mencegah penularan ke orang lain.Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Anggraini Alam, mengingatkan masyarakat untuk memahami tiga stadium campak, yakni stadium prodromal, stadium erupsi, dan stadium konvalesens.Dalam seminar media yang digelar secara daring pada Sabtu, Anggraini menjelaskan bahwa tiap stadium memiliki ciri khas yang membedakan campak dari penyakit ruam lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga :Angka Suspek Campak di RI Naik 3 Kali Lipat dalam 3 Tahun Terakhir1. Stadium prodromal: demam tinggi dan 3CStadium pertama adalah fase prodromal atau fase awal. Pada tahap ini, penderita biasanya mengalami demam tinggi disertai tiga gejala khas yang dikenal dengan istilah '3C', yakni coryza (pilek), cough (batuk), dan conjunctivitis (mata merah). "Mulai sakit-sakit, demamnya naik tinggi, ada 3C coryza, conjunctivitis, cough yang khas. Ini berlangsung 3 sampai 5 hari. Dokter akan memeriksa ada atau tidaknya Koplik's spot (bintik-bintik putih di area mulut) sebelum munculnya ruam khas campak," ujar Anggraini, dikutip dari Antara.Bintik putih kecil di dalam mulut tersebut kerap menjadi penanda awal sebelum ruam muncul di kulit.2. Stadium erupsi: ruam menyebar bertahapSetelah fase prodromal, pasien memasuki stadium erupsi. Fase ini ditandai dengan munculnya ruam kemerahan yang menyebar secara bertahap.Pilihan RedaksiPenyebab Gondongan pada Anak, Orang Tua Harus WaspadaKasus Campak Terdeteksi di Australia, Kenali GejalanyaMenurut Anggraini, pola penyebaran ruam campak sangat khas. Ruam biasanya dimulai dari area dekat garis rambut atau belakang telinga, kemudian menjalar ke wajah, batang tubuh, hingga lengan dan tungkai."Sebagai first disease, satu-satunya campak yang ruamnya biasanya mulai dari kulit dekat rambut. Jadi kita sering periksa di belakang telinga, kemudian menyebar ke batang tubuh, barulah ke lengan dan tungkai," katanya.Pola ini menjadi salah satu pembeda utama campak dengan penyakit ruam lain pada anak.3. Stadium konvalesens: menggelap dan mengelupasTahap terakhir adalah fase konvalesens atau masa pemulihan. Pada fase ini, ruam tidak lagi berwarna merah terang, melainkan berubah menjadi lebih gelap, mengering, dan tampak bersisik sebelum akhirnya menghilang."Khas campak pada stadium konvalesens, ruamnya berubah makin mengumpul, menggelap, kemudian hilang dengan tampak bersisik," ujar Anggraini.Seseorang yang terinfeksi umumnya baru dinyatakan tidak menularkan setelah ruam benar-benar mengering dan mengelupas.
Sangat mudah menularCampak termasuk penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi. Virusnya menyebar melalui udara (airborne), bukan hanya lewat kontak langsung.Penularan bisa terjadi melalui percikan batuk, bersin, bahkan saat berbicara. Virus dapat bertahan di udara lebih dari dua jam serta menempel pada permukaan benda atau debu di sekitar.Lingkungan padat penduduk, lembap, dan minim ventilasi turut meningkatkan risiko penyebaran.Lihat Juga :Imbas Banjir Sumatra, IDAI Catat Diare-ISPA Dominasi Penyakit AnakAnggraini menjelaskan masa inkubasi campak dapat berlangsung hingga tiga minggu. Pada masa ini, virus sudah masuk ke dalam tubuh tetapi belum menimbulkan gejala sehingga penderita kerap tidak menyadari dirinya terinfeksi."Ruam muncul sekitar 10 hari atau lebih. Setelah ruam kering, menghitam, dan bersisik, barulah anak atau orang dewasa boleh kembali beraktivitas. Kalau belum, masih berisiko menularkan," jelasnya.Untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB), dibutuhkan kekebalan kelompok (herd immunity) minimal 94 persen di suatu wilayah.Jika cakupan imunisasi berada di bawah ambang tersebut, risiko KLB meningkat karena virus mudah menyebar di komunitas yang belum terlindungi.Lihat Juga :Benarkah Garam Kalium Klorida Aman untuk Hipertensi? Ini Penjelasannya"Sekali divaksin campak, dikatakan bisa mencegah dengan rentang perlindungan 84 sampai 93 persen," ujar Anggraini.Pemerintah menetapkan imunisasi campak diberikan tiga kali, yakni saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan, dan ketika duduk di kelas 1 sekolah dasar. Vaksin campak merupakan vaksin hidup yang dilemahkan sehingga memerlukan dosis dan waktu pemberian yang tepat agar tubuh membentuk antibodi dalam jumlah optimal."Upayakan setiap balita imunisasinya lengkap sebelum masuk PAUD. Kalau terlewat, segera kejar. Satu kasus campak saja bisa menularkan ke banyak orang," katanya.Dengan mengenali tiga stadium gejala sejak dini serta memastikan imunisasi lengkap, risiko penularan campak di masyarakat dapat ditekan sekaligus mencegah potensi wabah yang lebih luas. (nga/tis)
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260303124203-255-1333759/kenali-3-tahap-gejala-campak-agar-tak-salah-diagnosis
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
07 Apr 2026
Siap-siap, Maskapai Akan Naikkan Harga Tiket Pesawat hingga 13 Persen
07 Apr 2026
BPOM Setujui Penerapan 'Nutri-Level', Cegah Konsumsi Gula Berlebih
07 Apr 2026
Kapan Waktu Terbaik Minum Air Hangat untuk Pencernaan?
07 Apr 2026
Singapura Larang Penumpang Bawa 2 Power Bank Saat Naik Pesawat
07 Apr 2026
Hati-Hati, 5 Suplemen Ini Justru Jadi Penyebab Sembelit Tambah Parah
07 Apr 2026
Gunung Bromo Tutup Total 6-12 April 2026, Fokus Pemulihan Ekosistem