Internasional 28 Dec 2025 7 views

Cerita Pemimpin China Permalukan Presiden Rusia di Kolam Renang

Uni Soviet (sekarang Rusia) dan Tiongkok, dua negara komunis terbesar di abad ke-20, ternyata tidak selalu memiliki hubungan yang harmonis. Keduanya sering terlibat perseteruan, te...

Cerita Pemimpin China Permalukan Presiden Rusia di Kolam Renang
Uni Soviet (sekarang Rusia) dan Tiongkok, dua negara komunis terbesar di abad ke-20, ternyata tidak selalu memiliki hubungan yang harmonis. Keduanya sering terlibat perseteruan, terutama pada tahun 1950-an, yang dipicu oleh persaingan pengaruh global dan sengketa perbatasan.

Pada masa itu, Tiongkok dipimpin oleh Mao Zedong dan Rusia oleh Nikita Khrushchev. Pada 21 Juli 1958, Khrushchev tiba di Beijing untuk kunjungan rahasia guna bertemu dengan Ketua Mao. Namun, seperti yang diceritakan dalam buku "Kehidupan Pribadi Ketua Mao" karya Li Zhi Sui, Mao menangkap maksud tersembunyi dari kedatangan pemimpin Rusia itu. "Tujuan mereka yang sebenarnya adalah untuk mengendalikan kita," kata Mao. "Mereka mencoba membelenggu kaki dan tangan-tangan kita," tambahnya. Rusia dituding hanya memanfaatkan Tiongkok untuk meningkatkan hubungan dengan Amerika Serikat.

Meskipun demikian, sebagai seorang pemimpin, Mao tetap menjamu Khrushchev. Mao mengajak tamunya itu untuk berbincang di kolam renang rumah pribadinya. Mao, yang memang suka berenang, sudah berada di tepi kolam renang dengan mengenakan baju renang. Ia kemudian menawarkan Khrushchev untuk memakai celana renang yang tersedia di kamar ganti. Tanpa diduga, Khrushchev bersedia mengenakan celana renang dan diajak berenang. Padahal, Khrushchev tidak bisa berenang. Akibatnya, pengaman dalam air dan pengawal presiden bersiaga di sana untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

Sekilas, tidak ada yang janggal dari pertemuan kedua pemimpin itu. Namun, setelah kembali ke negaranya, Khrushchev mengungkapkan bahwa ia merasa terhina dengan perilaku Mao yang mengajaknya berenang, sehingga pembicaraan serius menjadi tersendat. Akibatnya, rencana Khrushchev yang semula akan tinggal seminggu di Tiongkok, dipersingkat menjadi tiga hari saja.

Kepada orang terdekatnya, Mao mengakui bahwa ia memang memperlakukan Khrushchev seperti seorang barbar yang datang untuk memberi upeti. "Inilah salah satu cara untuk memberi pelajaran kepadanya," kata Mao dengan bangga.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20251228132930-113-1311285/cerita-pemimpin-china-permalukan-presiden-rusia-di-kolam-renang
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.