Internasional 19 Jan 2026 6 views

Bisakah Iran Andalkan Rusia dari Serangan AS-Israel?

Judul: Bisakah Iran Andalkan Rusia dari Serangan AS-Israel? Jakarta, Di tengah ketegangan Iran dan Israel serta ancaman serangan dari Amerika Serikat (AS), Rusia membuka komunikas...

Bisakah Iran Andalkan Rusia dari Serangan AS-Israel?
Judul: Bisakah Iran Andalkan Rusia dari Serangan AS-Israel?

Jakarta, Di tengah ketegangan Iran dan Israel serta ancaman serangan dari Amerika Serikat (AS), Rusia membuka komunikasi dengan pemimpin Iran dan Israel.Presiden Rusia Vladimir Putin telah menghubungi Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai upaya untuk meredakan ketegangan di kawasan.Dalam pernyataannya, Kremlin mengatakan Putin berupaya menurunkan ketegangan antara kedua negara yang saling bermusuhan tersebut. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut situasi kawasan berada dalam kondisi sangat tegang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Situasi di kawasan sangat tegang, dan presiden melanjutkan upayanya untuk memfasilitasi deeskalasi," ujar Peskov, melansir AFP, Jumat (16/1).Lihat Juga :Negara-negara Arab Kini Berupaya Halangi AS Serang Iran, Kenapa?Dalam pembicaraan dengan Pezeshkian, Putin menyampaikan komitmen untuk memperkuat "kemitraan strategis" antara Rusia dan Iran. Sementara itu, Presiden Iran menyampaikan terima kasih atas dukungan Rusia terhadap Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa.Ini bukan yang pertama Rusia turun tangan menengahi ketegangan Iran dan musuh bebuyutannya, Israel dan AS. Bukan hanya menengahi, Rusia pun menunjukkan sikap pembelaan.Ketika Israel dan AS serang fasilitas nuklir Juni lalu, misalnya, Rusia dengan tegas menyatakan, "Ini benar-benar agresi tak beralasan terhadap Iran," kata Putin, dikutip kantor berita AFP, pada 23 Juni 2025.Hal itu disampaikan Putin dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi yang berkunjung ke Moskow, Rusia pada waktu yang sama."Rusia berusaha membantu rakyat Iran," kata Putin.Lihat Juga :Presiden Suriah Tetapkan Bahasa Kurdi sebagai Bahasa NasionalHubungan Iran-RusiaMeski berbeda ideologi, Iran dan Rusia punya hubungan strategis sejak lama, terutama setelah revolusi 1979.Rusia selama ini dikenal sebagai mitra strategis Iran dan mewaspadai konflik yang dapat mengancam kepemimpinan pro-Moskow di Teheran.Laman Colombia University mengunggah ulasan Robert O Freedman, profesor ilmu politik Peggy Meyerhoff Pearlstone dan presiden, Universitas Ibrani Baltimore, menyatakan Iran adalah sekutu terpenting Rusia di Timur Tengah dalam banyak aspek. Misalnya, Moskow memasok Teheran dengan senjata dan reaktor nuklir. Mereka bersekutu melawan pemerintah Taliban di Afghanistan, serta dalam melawan Azerbaijan dan Turki.Rusia juga telah membantu upaya Iran untuk menghindari dan menghilangkan upaya yang dipimpin AS untuk mengisolasi negara tersebut.Salah satu perubahan paling mencolok dalam kebijakan luar negeri Rusia, dibandingkan dengan kebijakan Uni Soviet sebelumnya, adalah revisi prioritas regionalnya. Dengan runtuhnya Uni Soviet, negara-negara yang baru merdeka di Asia Tengah dan Transkaukasia telah menjadi fokus utama para pembuat kebijakan Rusia yang berupaya merebut kembali kendali atas wilayah tersebut.Mengingat pentingnya negara-negara ini dan hubungannya dengan Turki serta Iran, Rusia cenderung memandang Timur Tengah melalui lensa kebijakan terhadap Asia Tengah dan Transkaukasia.
Dari semua negara di Timur Tengah, mungkin tidak ada yang lebih penting bagi Rusia selain Iran. Lokasi strategis Iran di Teluk Persia, kepentingannya sebagai mitra dagang, serta hubungan dan kepentingannya di bekas republik Soviet di Asia Tengah dan Transkaukasia telah menarik perhatian Moskow.Dikutip dari laman The Moscow Times, kemitraan strategis kedua negara di tengah ketidakstabilan politik, justeru makin erat dalam beberapa tahun mendatang.Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif, yang telah diformalkan selama kunjungan resmi Presiden Iran Masoud Pezeshkian ke Moskow pada 17 Januari 2025 lalu, menandai langkah signifikan dalam aliansi yang berkembang antara kedua negara.Dengan kedua negara bertujuan untuk menghadapi tantangan bersama, kemitraan ini memiliki implikasi yang luas, terutama untuk pertahanan, perdagangan, dan energi.Bidang-bidang utama kolaborasi, termasuk transportasi, sektor energi, pertahanan, dan keamanan regional, akan menjadi inti dari perjanjian bersejarah ini.Lihat Juga :Trump Klaim Negosiasi ke NATO Soal Kuasai GreenlandHubungan antara Teheran dan Moskow melampaui sekadar pertukaran ekonomi karena telah berkembang menjadi kemitraan strategis komprehensif yang mencerminkan kepentingan bersama mereka dalam stabilitas regional dan melawan pengaruh Barat.Lanskap ekonomi Iran dan Rusia telah dibentuk oleh ketergantungan bersama mereka pada ekspor energi dan pengalaman mereka di bawah sanksi internasional dari Barat. Keterkaitan yang semakin erat antara kedua negara telah menghadirkan peluang unik untuk mengatasi tantangan-tantangan ini dan membuka jalan baru bagi pertumbuhan ekonomi.Salah satu pilar utama kemitraan ini adalah Koridor Transportasi Utara-Selatan , sebuah proyek infrastruktur vital yang akan memfasilitasi perdagangan antara Iran, Rusia, dan beberapa mitra regional dan internasional lainnya. Investasi strategis dalam jaringan transportasi ini jelas menunjukkan niat Moskow dan Teheran untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan mengamankan manfaat bersama di tahun-tahun mendatang, secara efektif melawan sanksi Barat.Selain transportasi, energi tetap menjadi inti dari kemitraan Iran-Rusia. Dengan sanksi yang membatasi akses mereka ke pasar Barat, kedua negara telah didorong untuk mencari cara alternatif untuk memperkuat sektor energi mereka. Rusia, dengan cadangan minyak dan gas alamnya yang melimpah, telah mendukung pengembangan industri energi Iran, mendukung eksplorasi, pengeboran, dan infrastruktur.Beberapa perusahaan Rusia diharapkan akan berinvestasi besar-besaran di sektor energi Iran, yang akan membantu memodernisasi dan memperluas kemampuannya. Para pejabat Iran telah menyatakan optimisme tentang prospek investasi ini, khususnya dalam konteks meningkatnya permintaan energi di Asia.Hubungan sependeritaan kedua negara juga dibangun karena kedua negara ini sama-sama pernah mendapatkan sanksi dari negara-negara barat.Rusia disanksi AS dan sejumlah negara Eropa, misalnya, karena menyerang Ukraina. Meski dalam jumpa pers di Istana Kepresidenan Rusia Kremlin tahun lalu, Putin menegaskan Rusia tidak akan tunduk pada sanksi yang dijatuhkan AS dan negara manapun.Ia menilai sanksi-sanksi yang dijatuhkan kepada Moskow malah bisa menjadi bumerang bagi negara-negara tersebut.Menurutnya, sanksi-sanksi itu sama sekali tidak memengaruhi Rusia, apalagi menjadikan negaranya itu sulit dan miskin.Lihat Juga :Diputus Berhari-hari Imbas Kerusuhan, Iran Mulai Buka Akses Internet"(Sanksi) ini akan memiliki konsekuensi tertentu, namun tidak akan secara signifikan memengaruhi kesejahteraan ekonomi kami," kata Putin seperti dikutip Reuters.Begitu pula Iran sudah sejak tahun 1979 terkena embargo negara-negara barat. Sanksi itu mencakup pembekuan aset, embargo perdagangan (terutama minyak), pembatasan sektor keuangan (seperti SWIFT), larangan transfer dana, dan embargo senjata, dengan tujuan menekan program nuklir dan militer mereka, yang berdampak signifikan pada ekonomi dan kehidupan warga sipil Iran.Pada 1995 AS lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa menjatuhkan sanksi karena dituding mengembangkan senjata nuklir. Sanksi ini terus berlanjut hingga sekarang.Dikutip dari situs Columbia University, sanksi ini diperluas untuk mencakup embargo penuh dan komprehensif terhadap perdagangan bilateral (diberlakukan melalui EO 12957 dan EO 12959 yang ditandatangani oleh Presiden Clinton) dan, pada tahun 1996, sanksi yang berupaya mengisolasi Iran dari perusahaan energi non-AS juga.Perkembangan ini memunculkan terciptanya konsep baru, yaitu sanksi "sekunder". Berbeda dari sanksi "primer" (yang menargetkan perdagangan AS dengan negara asing), sanksi sekunder menargetkan orang atau entitas non-AS agar tidak terlibat dalam perdagangan dengan negara asing lainnya.Lihat Juga :Dubes AS untuk NATO: Reaksi Eropa Berlebihan soal GreenlandPada tahun 2005, saat Presiden Iran Ahmadinejad menolak tawaran negosiasi Eropa untuk akses aktivitas nuklir yang ditangguhkan, sanksi kembali dijatuhkan.Kenyang dengan sanksi membuat negara ini jadi kebal. Berkali-kali Amerika memaksa Iran kembali ke meja perundingan untuk menghentikan program nuklirnya, namun tidak pernah membuahkan hasil.Sampai-sampai Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, "Kami tidak akan mati kelaparan jika mereka menolak berunding dengan kami atau menjatuhkan sanksi," dikutip oleh media pemerintah tentang pembicaraan dengan Washington."Kami akan menemukan cara untuk bertahan hidup," ujarnya dikutip dari Reuters.Sanksi ini diberlakukan dalam beberapa gelombang dan terus-menerus sampai sekarang. Dan itulah yang membuat Iran dan Rusia menjadi semakin akrab.
Kedekatan karena Sanksi

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260118151459-120-1318196/bisakah-iran-andalkan-rusia-dari-serangan-as-israel
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.