Internasional 28 Mar 2026 3 views

Cerita Pilu Korban Pelecehan Seksual yang Berujung Eutanasia

Noelia Castillo, seorang perempuan berusia 25 tahun dari Spanyol, memilih untuk mengakhiri hidupnya melalui eutanasia setelah melalui berbagai penderitaan. Permintaannya, yang diaj...

Cerita Pilu Korban Pelecehan Seksual yang Berujung Eutanasia
Noelia Castillo, seorang perempuan berusia 25 tahun dari Spanyol, memilih untuk mengakhiri hidupnya melalui eutanasia setelah melalui berbagai penderitaan. Permintaannya, yang diajukan pada tahun 2024, akhirnya dikabulkan pada Kamis, 25 Maret, mengakhiri perjalanan hidupnya yang sulit.

"Saya ingin pergi dengan tenang dan mengakhiri penderitaan. Titik," kata Castillo dalam sebuah wawancara dengan saluran lokal Antena 3 beberapa hari sebelum kematiannya. Kisahnya memicu perdebatan sengit di seluruh Spanyol, dengan sebagian mendukung keputusannya dan sebagian lain mendesaknya untuk tidak memilih eutanasia.

Keputusan eutanasia ini berakar dari kehidupan Castillo yang penuh gejolak. Setelah perpisahan orang tuanya saat ia berusia 13 tahun, Castillo menghabiskan waktu di pusat perawatan karena didiagnosis gangguan obsesif kompulsif (OCD) dan gangguan kepribadian ambang.

Ia juga mengalami beberapa pelecehan seksual. Pelecehan pertama dilakukan oleh mantan kekasihnya, diikuti oleh pemerkosaan oleh dua pria tak dikenal di sebuah klub malam, dan pelecehan oleh tiga pria muda di sebuah bar. Namun, tidak ada satupun dari insiden ini yang dilaporkannya ke polisi.

Castillo pernah melakukan percobaan bunuh diri, yang meskipun ia selamat, menyebabkan kelumpuhan dan mengharuskannya menggunakan kursi roda. Kondisi ini menjadi titik balik yang mendorongnya untuk mempertimbangkan eutanasia. "Tidur sangat sulit bagi saya. Saya juga mengalami sakit punggung dan kaki," ujarnya. "Dunia saya sangat gelap. Saya tidak punya tujuan, tidak punya sasaran, tidak punya apa-apa."

Perjalanan Castillo untuk mendapatkan eutanasia tidak mudah, meskipun eutanasia telah dilegalkan di Spanyol sejak 2021. Keluarganya menentang keputusannya. Permohonan eutanasia Castillo sebenarnya telah disetujui pada Juli 2024 oleh Komisi Jaminan dan Evaluasi Catalonia. Komisi tersebut menemukan bahwa Castillo memenuhi semua persyaratan hukum, termasuk kondisi klinis yang tidak dapat dipulihkan, ketergantungan tinggi pada orang lain, serta rasa sakit dan penderitaan kronis yang melumpuhkan, yang semuanya berdampak negatif pada kehidupan sehari-harinya.

Namun, ayahnya menentang keputusan ini pada Agustus 2024 dan melakukan upaya hukum untuk menghentikan proses eutanasia. Sang ayah menempuh jalur hukum melalui lima tingkat peradilan: Pengadilan Barcelona, Pengadilan Tinggi Kehakiman Catalonia, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusional, dan Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa. Namun, tidak ada satupun dari lembaga pengadilan tersebut yang menentang keputusan Castillo.

"Saya mengerti dia seorang ayah, bahwa dia tidak ingin kehilangan putrinya," kata Castillo, yang mengaku tidak memiliki hubungan dekat dengan ayahnya. "Dia mengabaikan saya. Jadi, mengapa dia ingin saya tetap hidup? Untuk menahan saya di rumah sakit?"

Penolakan dari berbagai lembaga pengadilan akhirnya memungkinkan Castillo untuk melanjutkan keputusannya. "Akhirnya aku berhasil, dan sekarang mungkin aku akhirnya bisa beristirahat. Aku tidak tahan lagi dengan keluarga ini, aku tidak tahan lagi dengan rasa sakit ini, aku tidak tahan lagi dengan semua yang menyiksa pikiranku," ungkapnya.

Castillo mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh keluarganya dan meminta untuk dibiarkan sendiri di saat-saat terakhirnya. "Aku tidak ingin ada orang di dalam kamarku. Aku tidak ingin mereka melihatku memejamkan mata," katanya.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260328141523-134-1342107/cerita-pilu-korban-pelecehan-seksual-yang-berujung-eutanasia
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.