Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, Bagaimana Selanjutnya?
Perjanjian pembatasan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, yang dikenal sebagai New Strategic Arms Reduction Treaty (New START), telah resmi berakhir pada 5 Februari 22...
Perjanjian ini sebelumnya membatasi masing-masing pihak untuk hanya mengerahkan 1.550 sistem strategis. Berdasarkan data dari International Campaign to Abolish Nuclear Weapons, Rusia saat ini memiliki 5.459 hulu ledak nuklir, diikuti oleh AS dengan 5.277 hulu ledak.
Banyak pihak memprediksi bahwa berakhirnya perjanjian ini akan menyeret dunia ke dalam perlombaan senjata nuklir yang tak terkendali. Rose Gottemoeller, mantan Wakil Sekretaris Jenderal NATO dan negosiator utama AS dalam New START, mengungkapkan bahwa sebelum pandemi COVID-19, kedua negara rutin melakukan delapan belas kunjungan per tahun untuk memvalidasi data dan meningkatkan pemahaman.
Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin menghentikan akses inspeksi di lokasi pada tahun 2023. Tindakan ini memicu anggapan bahwa perjanjian tersebut sudah seperti "zombie" karena kehilangan mekanisme verifikasi. Bagi sebagian pengamat, berakhirnya perjanjian ini hanyalah formalitas dari kondisi yang sudah terjadi.
Absennya perjanjian ini diperkirakan akan sangat dirasakan oleh komunitas intelijen kedua negara dalam beberapa tahun mendatang. Batasan nuklir dan komitmen untuk tidak saling mengganggu Sarana Teknis Nasional (NTM) masing-masing, sebelumnya telah memberikan Washington dan Moskow keyakinan bahwa sistem berbasis darat dan ruang angkasa mereka tidak akan diserang, yang berfungsi sebagai peringatan dini terhadap serangan.
Selain itu, ketika Amerika Serikat dan Rusia mendigitalisasi sistem komando dan kendali nuklir mereka—sistem yang mencegah penyalahgunaan sekaligus memungkinkan peluncuran senjata nuklir secara cepat—perjanjian New START berfungsi sebagai pelindung dari ketidakpastian dan risiko salah perhitungan. Kini, jika satelit peringatan dini mendeteksi gangguan, analis intelijen mungkin akan mencurigai adanya serangan.
Di sisi lain, Austin Long, seorang cendekiawan di Massachusetts Institute of Technology dan mantan wakil direktur untuk stabilitas strategis di Pentagon, berpendapat bahwa batasan-batasan perjanjian tersebut dirancang untuk era yang berbeda. Lingkungan keamanan saat ini, menurutnya, "sangat berbeda" dibandingkan saat perjanjian itu dinegosiasikan. Perubahan ini bukan hanya karena kebijakan luar negeri Rusia yang semakin agresif sejak 2010, tetapi juga karena pesatnya perkembangan persenjataan nuklir Tiongkok serta kekuatan nuklir Korea Utara yang, meskipun kecil, kini cukup signifikan untuk mencegah musuh-musuhnya.
Menurut laporan dari cfr.org, perjanjian New START berhasil menurunkan total jumlah senjata nuklir yang dikerahkan ke level terendah sejak awal Perang Dingin. Namun, tanpa perjanjian formal, baik Amerika Serikat maupun Rusia kini bebas untuk mengerahkan lebih banyak senjata strategis. Semua indikasi menunjukkan bahwa jumlah senjata nuklir yang dikerahkan akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan, dan siklus aksi-reaksi akan sulit dihindari.
Salah satu langkah awal yang kemungkinan akan diambil militer AS adalah membuka kembali tabung rudal yang sebelumnya ditutup pada kapal selam kelas Ohio. Undang-Undang "One Big Beautiful Bill" yang digagas oleh Presiden Donald Trump bahkan telah mengalokasikan $62 juta untuk tujuan ini, yang dapat dilakukan setiap kali kapal selam kembali ke pelabuhan setelah berpatroli. Amerika Serikat juga dapat mulai "mengunggah" hulu ledak nuklir tambahan ke platform yang sudah ada. Dalam satu dekade, beberapa perkiraan menyebutkan bahwa AS dapat mengerahkan tambahan 1.900 senjata nuklir dari persediaannya.
Rusia bahkan memiliki lebih banyak hulu ledak cadangan dibandingkan Amerika Serikat. Dengan demikian, tidak akan sulit bagi Kremlin untuk menambahkan hulu ledak tambahan ke sistem pengiriman nuklirnya dan terus mengeksplorasi apa yang disebut kemampuan eksotis yang dirancang untuk menghindari pertahanan rudal.
Menyikapi perkembangan ini, Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menyatakan keprihatinannya. Dalam Konferensi Pelucutan Senjata di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss, Senin (23/2) lalu, ia menyampaikan, "Berakhirnya perjanjian New START, batasan yang mengikat pada dua (negara) persenjataan nuklir terbesar, menandai momen yang mencemaskan."
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260512205217-134-1358012/perjanjian-nuklir-as-rusia-berakhir-bagaimana-selanjutnya
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
28 May 2026
Trump ke Oman soal Selat Hormuz: Jangan Bantu Iran atau Kami Ledakan
28 May 2026
AS Kembali Serang Iran Usai Jalan Buntu Lerai Konflik di Selat Hormuz
28 May 2026
Trump Belum Puas dengan Tawaran Iran soal Kesepakatan Damai
28 May 2026
Macam Politik Satire di Dunia, Partai Kecoa sampai Partai Malas Kerja
28 May 2026
Permaisuri Terakhir Iran Masih Hidup, di Mana Sekarang?
28 May 2026
Korea Selatan Duga Rudal Iran Serang Kapal Kargonya di Selat Hormuz