Internasional 21 Jun 2026 2 views

Nasib 'Negara' Verdis Setelah Didirikan Oleh Gen Z 7 Tahun Lalu

Jakarta – Pada tanggal 20 Mei 2019, seorang pemuda Australia bernama Daniel Jackson, yang kala itu berusia 20 tahun, mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden Republik Verdis. Negar...

Nasib 'Negara' Verdis Setelah Didirikan Oleh Gen Z 7 Tahun Lalu
Jakarta – Pada tanggal 20 Mei 2019, seorang pemuda Australia bernama Daniel Jackson, yang kala itu berusia 20 tahun, mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden Republik Verdis. Negara ini didirikan di atas sebidang tanah tak bertuan seluas 125 hektare yang terletak di antara Kroasia dan Serbia, tepatnya di sepanjang aliran Sungai Danube.

Pembentukan Verdis terinspirasi oleh Liberland, sebuah negara mikro yang juga tidak diakui oleh Kroasia dan Serbia, dan lokasinya sekitar 20 kilometer di utara Verdis. Nama "Verdis" sendiri dipilih karena kemiripannya dengan kata Latin "viridis" yang berarti hijau, mencerminkan fokus awal negara baru ini pada isu-isu lingkungan.

Wilayah yang kini dihuni oleh ratusan warga Verdis sebenarnya merupakan hasil sengketa perbatasan antara Serbia dan Kroasia. Serbia mengklaim perbatasan berada di garis tengah Sungai Donau, sementara Kroasia menginginkan perbatasan bersifat "kadaster" berdasarkan peta lama. Kondisi ini menyebabkan adanya beberapa kantong tanah yang tidak diklaim, termasuk area yang kini menjadi wilayah Verdis.

Jackson, seorang Gen Z, mengaku disambut baik oleh otoritas Serbia. Namun, Kroasia menolak mengakui Verdis. Pada Oktober 2023, Jackson dan sekelompok warganya diusir paksa oleh polisi Kroasia saat mereka mencoba menetap secara permanen.

Akibat insiden tersebut, Jackson kini "mengungsi" dan tinggal di Dover, Inggris. Sehari-hari, ia berpenampilan layaknya seorang presiden, mengenakan jas dan dasi, serta pin bendera Verdis. Sebuah bendera Verdis berwarna putih-biru juga terpasang di sudut ruangannya.

Pemerintahan Verdis beroperasi secara sukarela. Jackson dan jajarannya telah menemukan berbagai cara untuk mengumpulkan dana, mulai dari menjual *merchandise*, meminta sumbangan, hingga membuat skema kewarganegaraan melalui investasi.

Jackson mengklaim telah melakukan pembicaraan positif dengan para pemimpin negara-negara tetangga dan yakin bahwa Verdis "akan diakui" di tahun-tahun mendatang. "Menurutku akan sangat keren jika kita bisa ikut Eurovision," candanya. "Ada juga sejumlah orang yang ingin membentuk tim olahraga."

**Bisakah Resmi Jadi Negara?**

Meskipun sudah tujuh tahun berdiri, belum ada satu pun negara yang mengakui Verdis. Menurut Harry Hobbs, Guru Besar Hukum Universitas New South Wales yang ahli di bidang negara mikro, ada empat syarat agar suatu wilayah diakui sebagai negara: teritori, populasi permanen, pemerintahan, dan kapasitas untuk membangun hubungan dengan negara lain.

Hobbs berpendapat bahwa Daniel Jackson bisa saja berargumen telah memenuhi tiga dari syarat tersebut, namun ia masih perlu hadir di lahan tersebut untuk membuktikan maksudnya. "Jika dia bisa menetap di sana dan bisa mengumpulkan kelompok yang terdiri dari 50, 60, 100 orang, itu mungkin cukup untuk mengatakan, 'Saya memiliki populasi tetap, saya adalah sebuah negara'," katanya, dikutip dari ABC.

Namun demikian, Hobbs menambahkan bahwa hal tersebut kemungkinan besar tidak akan berarti banyak. "Meskipun ia mungkin memenuhi kriteria hukum internasional untuk sebuah negara, pertanyaan selanjutnya adalah: lalu apa gunanya?" kata Hobbs. "Anda bisa menyatakan diri sebagai sebuah negara, tetapi jika negara lain tidak memperlakukan Anda sebagai sebuah negara, itu sebenarnya tidak membantu." Ia menambahkan, "Jika tidak ada keuntungan bagi negara-negara besar, mereka tidak akan mengakuinya."

Jumlah negara mikro di dunia tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan mencapai ratusan. Beberapa di antaranya didirikan di Australia dengan berbagai alasan, mulai dari pengurangan pajak hingga inklusi sosial. "Seringkali ada anggapan bahwa ini adalah cara untuk menyatukan komunitas," ucap Hobbs.

Hobbs mengakui bahwa sebagian besar mikronasi tidak berbahaya. Namun, masalah muncul ketika orang-orang yang rentan terjebak dalam euforia tersebut. "Kami melihat, khususnya selama krisis pengungsi Suriah, banyak orang mendaftar ke negara-negara mikro untuk mencari suaka," katanya. "Orang-orang mengeluarkan banyak uang untuk menyelamatkan diri dan keluarga mereka, hanya untuk mengetahui bahwa mereka telah ditipu."

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260620203308-134-1371286/nasib-negara-verdis-setelah-didirikan-oleh-gen-z-7-tahun-lalu
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.