Eks Bos BMKG Beber Pemicu Tanah Gerak Tegal, Bukan Bencana Tiba-tiba
Yogyakarta – Mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menduga bahwa fenomena tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, bukan...
Dwikorita menjelaskan bahwa pergerakan tanah biasanya dimulai dengan rayapan atau retakan kecil yang tidak terlalu terlihat. Namun, jika dibiarkan bertahun-tahun, kondisi tersebut bisa menjadi parah. Ia menduga bahwa fenomena di Tegal ini sudah terjadi sebelumnya dan mungkin terabaikan, sehingga mencapai tingkat kerusakan yang parah. Menurutnya, dibutuhkan waktu beberapa tahun, minimal setahun lebih, untuk mencapai kondisi seperti yang terlihat sekarang.
Ada empat jenis tanah bergerak, namun Dwikorita mengidentifikasi fenomena di Desa Padasari sebagai rayapan tanah. Rayapan tanah memiliki karakteristik gerakan yang sangat lambat dan dapat terjadi pada lereng landai, bahkan pada area yang relatif datar. Ini berbeda dengan longsor yang terjadi pada lereng curam dengan kecepatan tinggi dan risiko fatalitas.
Meskipun rayapan tanah tidak langsung "membunuh" seperti longsor, namun secara perlahan dapat merusak infrastruktur seperti rumah, jalan, dan jembatan. Dwikorita menekankan bahwa bahaya utamanya adalah ketika rumah rusak dan ambruk, yang bisa menyebabkan korban jiwa. Karena pergerakannya lambat, fenomena di Tegal ini termasuk tipe rayapan.
Pemicu utama fenomena ini adalah karakter geologi kawasan tersebut yang terdiri dari lempung biru (blue clay). Lempung ini mengandung mineral montmorillonite yang sangat sensitif; akan mengembang saat terkena air dan menjadi pejal saat kering. Formasi geologi semacam ini tidak hanya ditemukan di Tegal, tetapi juga meluas hingga Grobogan dan Ngawi, Jawa Timur.
Dwikorita menjelaskan bahwa lempung biru dapat mengembang hingga delapan kali lipat dari volume awal saat terkena air, menjadi lunak seperti pasta gigi. Tanah merayap terjadi ketika lempung biru jenuh air, dan material di atas lapisan lempung biru inilah yang ikut bergerak. Jadi, sebenarnya lapisan lempung di bawahnya yang bergerak, dan tanah di atasnya ikut merayap.
Selain itu, Dwikorita menengarai bahwa tingginya curah hujan belakangan ini turut memengaruhi kejenuhan lempung biru di Desa Padasari. Curah hujan yang meningkat kemungkinan memicu lempung biru melampaui kapasitasnya sehingga menjadi tidak stabil. Ia juga menambahkan bahwa pembangunan bangunan dan jalan di atas tanah tersebut dapat memperparah kondisi, karena beban tambahan juga memengaruhi stabilitas tanah.
Fenomena tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, yang terjadi pekan lalu, telah menghancurkan ratusan rumah warga dan sejumlah fasilitas publik. Ini bukan kali pertama terjadi, sehingga pemerintah memutuskan untuk merelokasi warga demi keamanan.
Kepala Desa Padasari, Mashuri, melaporkan bahwa pergerakan tanah masih terus berlangsung sejak Senin (2/2) hingga Senin (8/2). Per awal pekan ini, data rumah terdampak mencapai 464 unit, dengan rincian 205 rusak berat, 174 rusak sedang, dan 85 rusak ringan. Fasilitas sosial yang terdampak meliputi 21 unit, fasilitas peribadatan 7 unit, pendidikan 7 unit, dan pemerintahan 1 unit. Infrastruktur yang rusak meliputi 3 titik jalan desa dan kabupaten, 1 bendung irigasi, dan 1 jembatan desa. Mashuri menyatakan kemungkinan ada penambahan jumlah rumah terdampak, dan data pastinya masih dalam proses rekapitulasi oleh Dinas Perkim.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa pergerakan tanah di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, masih aktif hingga Senin (9/2). Jumlah pengungsi juga terus bertambah, mencapai lebih dari 2.000 jiwa.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260210110103-20-1326513/eks-bos-bmkg-beber-pemicu-tanah-gerak-tegal-bukan-bencana-tiba-tiba
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
13 Feb 2026
Prabowo: Efisiensi Anggaran Cegah Korupsi, Saya Alihkan ke MBG
13 Feb 2026
Dokter-Advokat Gugat UU ASN ke MK soal Polisi di Jabatan Sipil
13 Feb 2026
FOTO: Tembok SD di Jakbar Nyaris Ambruk, Ditopang Penyangga Sementara
13 Feb 2026
Prabowo Tinjau-Resmikan SPPG dan Gudang Ketahanan Polri
13 Feb 2026
Polri Bangun 18 Gudang Pangan, Target Ada di Seluruh Wilayah Polda
13 Feb 2026
Kemenhan: Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Hibah dari Italia