Bogor-Bekasi Diprediksi Masih Diguyur Hujan Lebat Besok, Jakarta Aman?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan lebat hingga sangat lebat di Jakarta dan Tangerang hanya akan terjadi pada hari ini, Senin (12/1). Namun, huj...
Prediksi ini disampaikan BMKG dalam Peringatan Dini Cuaca periode 12-14 Januari 2026. Dalam peringatan tersebut, BMKG menyebut Tangerang, DKI Jakarta, Kabupaten dan Kota Bogor, serta Kabupaten dan Kota Bekasi berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat pada 12 Januari.
Untuk tanggal 13-14 Januari, potensi hujan lebat hingga sangat lebat diperkirakan tidak terjadi di DKI Jakarta dan Tangerang. Meskipun demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di wilayah Bogor dan Bekasi.
Hujan dengan intensitas tinggi telah mengguyur sejumlah wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sejak Senin pagi (12/1), menyebabkan banjir dan genangan di beberapa titik.
BMKG menjelaskan bahwa peningkatan intensitas hujan di wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, dalam beberapa waktu terakhir dipicu oleh sejumlah dinamika atmosfer. Faktor-faktor tersebut meliputi fenomena La Nina, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), serta perambatan gelombang ekuator.
"Kombinasi faktor-faktor tersebut mendukung pertumbuhan awan konvektif dan meningkatkan potensi terjadinya hujan di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir," terang BMKG dalam Prospek Cuaca Mingguan periode 9-15 Januari 2026.
BMKG memprediksi bahwa dalam sepekan ke depan, pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Pada skala global, El Nino-Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Nina Lemah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia turut memperkaya pasokan uap air.
Menurut BMKG, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga turut berperan memicu peningkatan curah hujan. MJO adalah aktivitas intra-seasonal di wilayah tropis yang ditandai dengan pergerakan aktivitas konveksi ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik, biasanya muncul setiap 30 hingga 40 hari.
Aktivitas MJO secara spasial diprakirakan aktif melintasi sejumlah daerah di Tanah Air, di antaranya Aceh, Bengkulu, sebagian besar Jawa, Bali, Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, dan beberapa daerah di Papua. "Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut," tambah BMKG.
BMKG juga mengungkapkan bahwa gelombang ekuator terpantau aktif dan dapat memperkuat proses konvektif di sejumlah wilayah. Kombinasi Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator teramati aktif di Papua Selatan dan perairan selatan Papua Selatan. Faktor ini juga berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di kawasan tersebut.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260112153806-641-1316188/bogor-bekasi-diprediksi-masih-diguyur-hujan-lebat-besok-jakarta-aman
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
13 Feb 2026
BRIN Ungkap Pemicu Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis Makin Sering di RI
13 Feb 2026
XLSmart Antisipasi Lonjakan Trefik Ramadhan Hingga Lebaran
13 Feb 2026
FOTO: Merayakan Inovasi Baru di Geotab Connect 2026
13 Feb 2026
Penipuan Dokumen Digital Marak, Warga Diimbau Lebih Ketat Verifikasi
13 Feb 2026
Riset Terbaru Ungkap Cadangan Hidrogen di Inti Bumi Setara 45 Lautan
13 Feb 2026
Bos Geotab Bicara Tantangan Pasar di Indonesia