Gara-gara Trump, Penyakit Paru-paru Bakal Lebih Parah dan Mematikan
Judul: Gara-gara Trump, Penyakit Paru-paru Bakal Lebih Parah dan Mematikan Jakarta, Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotens...
Jakarta, Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi meningkatkan angka penyakit paru-paru serta kematian dini di Amerika Serikat.Analisis yang dipublikasikan dalam jurnal American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine itu menilai berbagai kebijakan selama masa jabatan kedua Trump di sepuluh sektor, mulai dari akses layanan kesehatan, regulasi lingkungan, perlindungan pekerja, hingga cakupan vaksinasi. Hasilnya menunjukkan kebijakan-kebijakan tersebut berpotensi memperburuk kesehatan pernapasan masyarakat.Lihat Juga :Prediksi Lebaran 2026 dari BRIN, BMKG, Muhammadiyah, Pemerintah dan NU
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peneliti mengatakan bahwa kebijakan-kebijakan ini kemungkinan akan meningkatkan insiden penyakit paru-paru, memperburuk penyakit yang sudah ada, dan merusak perawatan bagi pasien yang sudah menderita, sehingga mengancam kesehatan paru-paru anak-anak dan orang dewasa.Adam Gaffney, dokter paru dan profesor di Harvard Medical School yang memimpin laporan tersebut, memperingatkan bahwa secara keseluruhan, kebijakan-kebijakan itu merupakan serangan terhadap paru-paru warga Amerika yang dapat mengakibatkan jutaan orang meninggal secara prematur di tahun-tahun mendatang.
Laporan tersebut menyoroti beberapa masalah mendesak, salah satunya adalah pemotongan anggaran kesehatan yang tercantum dalam paket kebijakan pajak dan pengeluaran masa jabatan kedua Trump.Dikenal sebagai One Big Beautiful Bill Act (OBBBA), paket tersebut memangkas lebih dari US$1 triliun (Rp16,9 kuadriliun) dari program-program kesehatan, menandai pemangkasan anggaran kesehatan federal terbesar dalam sejarah Amerika.Analisis tersebut menyatakan bahwa pemotongan anggaran itu dapat mengancam akses perawatan bagi jutaan orang yang bergantung pada Medicaid, menurunkan tingkat vaksinasi untuk penyakit pernapasan, serta mengurangi akses ke perawatan darurat dan obat-obatan."Misalkan Anda memiliki seorang pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis yang kehilangan jaminan kesehatan, berhenti berkonsultasi ke dokter umum, berhenti menemui spesialis paru, dan tidak lagi memiliki dokter yang meresepkan inhaler untuknya," kata Gaffney, mengutip The Guardian, Jumat (13/3).Pilihan RedaksiChina Kembangkan Baterai Nuklir Mini, Awet 50 Tahun Tanpa Harus DicasPunah 6.000 Tahun Lalu, 2 Spesies Ini Ditemukan di Hutan PapuaMengenal 3 Ilmuwan Iran yang Mampu Mengubah Dunia"Faktanya, pengobatan modern menyelamatkan nyawa, dan ketika Anda mencabutnya, hal itu justru membahayakan," lanjutnya.Gedung Putih merespons penelitian tersebut dan membantah temuan Gaffney."Pemerintahan Trump tidak membahayakan akses layanan kesehatan bagi siapa pun," ujar juru bicara Gedung Putih Kush Desai.Desai mengatakan bahwa OBBBA mencakup persyaratan kerja yang masuk akal, verifikasi kelayakan, dan reformasi lain untuk memangkas pemborosan, penipuan, dan penyalahgunaan dalam program Medicaid, yang akan memperkuat program tersebut bagi warga Amerika yang bergantung pada jaring pengaman vital ini.Ia menambahkan bahwa pemerintah Trump justru sedang mendorong perombakan ambisius terhadap sistem perawatan kesehatan Amerika.Selama setahun terakhir, pemerintahan Trump telah mencabut atau melemahkan puluhan standar polusi udara, termasuk yang mengatur batas emisi partikel halus, merkuri di udara, dan emisi knalpot.Meskipun perubahan ini mungkin meningkatkan keuntungan bagi beberapa perusahaan, hal tersebut akan menyebabkan munculnya kasus asma baru dan peningkatan jumlah rawat inap akibat penyakit pernapasan, yang mengancam kesehatan paru-paru ratusan ribu orang, menurut studi tersebut."Di setiap kesempatan, pemerintahan ini lebih mengutamakan potensi keuntungan ekonomi para pencemar daripada udara bersih dan kesehatan pernapasan warga Amerika," tulis Mary B Rice, direktur Pusat Iklim, Kesehatan, dan Lingkungan Global di Harvard serta salah satu penulis studi tersebut.Ancaman risiko di halaman berikutnya...
Para pejabat telah menunda proyek-proyek energi bersih, memaksa pembangkit listrik berbahan bakar fosil untuk tetap beroperasi jauh setelah tanggal penutupan yang direncanakan, serta melobi Kongres untuk mencabut kewenangan California dalam mewajibkan penjualan kendaraan listrik.Menurut para penulis, jika langkah-langkah ini berhasil, hal itu akan menyebabkan polusi udara yang semakin parah, dengan dampak yang berpotensi "tidak dapat diubah" terhadap kesehatan paru-paru.Risiko lain yang disoroti dalam makalah tersebut meliputi penundaan perlindungan di tempat kerja bagi para penambang batu bara yang terpapar debu silika, pemotongan dana kesehatan masyarakat di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA), serta penurunan cakupan vaksinasi di bawah Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr.Risiko-risiko ini kemungkinan akan semakin parah, dengan banyak orang 'menemukan diri mereka berada di pusat berbagai vektor bahaya', menurut Gaffney.Pilihan RedaksiRatusan Gempa Kecil Dalam Sebulan, Sesar Lembang Ancam Bandung Raya?Studi Kontroversial Klaim Badai Matahari Bikin Gempa Bumi, Benarkah?Ilmuwan Temukan Penyimpanan Data di Kaca yang Awet 10.000 TahunPasien dengan penyakit paru obstruktif kronis mungkin terpapar tingkat jelaga yang lebih tinggi akibat melemahnya standar emisi, dan mungkin juga kehilangan jaminan kesehatan. Jika mereka merokok, yang semakin meningkatkan risiko, mereka mungkin juga kehilangan akses ke program penghentian merokok akibat berkurangnya dana dari CDC.Jika mereka mempercayai informasi yang salah yang disebarkan oleh pejabat pemerintahan Trump, mereka mungkin juga menunda vaksinasi Covid-19 dan influenza, padahal mereka sangat rentan terhadap kedua penyakit tersebut.Gaffney memprediksi pelonggaran kebijakan lingkungan akan memperparah pemanasan global, memicu kebakaran hutan yang lebih parah dan lebih sering yang mungkin membuat pasien terpapar lebih banyak asap yang merusak paru-paru.Penyakit paru-paru dapat menyerang siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi, tidak ada kelompok masyarakat yang benar-benar kebal terhadap dampaknya. Namun, kelompok masyarakat tertentu akan paling menderita akibat pilihan kebijakan yang berbeda-beda.Meskipun para penambang batu bara di negara bagian yang didominasi Partai Republik akan paling terpukul oleh pemangkasan kebijakan kesehatan kerja tertentu, dampaknya mungkin akan dirasakan paling parah oleh komunitas kulit hitam, yang mengalami tingkat prevalensi asma yang jauh lebih tinggi."Kita hidup dalam masyarakat yang sangat tidak setara dalam banyak hal, dan kita tahu bahwa penyakit paru-paru paling banyak menimpa kaum pekerja dan orang miskin dari semua ras," ungkap Gaffney.Gaffney, yang telah mengadvokasi program Medicare for All, mengatakan bahwa perubahan yang luas diperlukan."Rangkaian kebijakan merugikan yang kita saksikan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya," katanya."Kita perlu melakukan lebih dari sekadar membatalkan kebijakan-kebijakan tersebut. Kita perlu benar-benar mengimplementasikan kebijakan-kebijakan positif yang akan menjamin kesehatan seluruh warga Amerika," lanjut Gaffney
Add
as a preferred source on Google
Ancaman Risiko yang Semakin Parah
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260316155846-199-1338690/gara-gara-trump-penyakit-paru-paru-bakal-lebih-parah-dan-mematikan
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
06 Apr 2026
Sampah Antariksa Bikin Geger Warga Lampung Ternyata Sisa Roket China
05 Apr 2026
Cara Astronaut Artemis 2 Pelajari Bulan
05 Apr 2026
Pakar: Pemadaman Internet Iran adalah Blackout Nasional Terlama
05 Apr 2026
Pakar Astronomi: Benda di Langit Lampung Sampah Antariksa, Bukan Komet
05 Apr 2026
Warga Lampung Geger Benda Bercahaya di Langit, Ini Kata Ahli
05 Apr 2026
Studi Terbaru Ungkap AI Kini Makin Sering Berbohong