Video
17512 video
[BREAKING NEWS], - [BREAKING NEWS] Iran Tetap Kuasai Selat Hormuz | tvOne Iran masih menguasai Selat Hormuz dan bahkan memperketat kontrol militer atas jalur strategis tersebut. Otoritas Iran menegaskan memiliki kendali penuh terhadap seluruh lalu lintas kapal, bahkan setiap kapal yang melintas harus mendapat izin dari militer Iran. Namun kondisi di lapangan sangat tegang. Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah Amerika Serikat tetap menjalankan blokade laut. Militer Iran memperingatkan bahwa kapal yang melintas tanpa izin bisa dianggap sebagai ancaman, bahkan dilaporkan terjadi insiden penembakan terhadap kapal di area tersebut. Dampaknya, aktivitas pelayaran global terganggu serius. Sejumlah kapal tanker memilih berbalik arah dan lalu lintas energi dunia ikut terdampak, mengingat sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati selat ini. Situasi ini membuat Selat Hormuz tetap dikuasai Iran, tetapi dalam kondisi tidak stabil dan berpotensi memicu eskalasi konflik lebih luas.
Breaking News, - [BREAKING NEWS] Adu Kuat AS VS Iran Di Selat Hormuz | tvOne
[BREAKING NEWS], - [BREAKING NEWS] Jelang Perundingan AS-Iran Tahap 2 | tvOne AS dan Iran bersiap memasuki perundingan tahap kedua setelah pembicaraan pertama di Islamabad gagal mencapai kesepakatan. Kedua pihak masih mencari titik temu terkait penghentian konflik dan isu nuklir yang menjadi ganjalan utama. Negosiasi lanjutan ini direncanakan berlangsung dalam waktu dekat sebelum masa gencatan senjata berakhir. Meski ada sinyal dialog, ketegangan tetap tinggi di tengah tekanan militer dan blokade yang masih berlangsung.
[BREAKING NEWS], - [BREAKING NEWS] Perundingan AS-Iran Gagal, Gencatan Senjata Batal? | tvOne Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, dilaporkan gagal mencapai kesepakatan setelah pembahasan panjang tanpa titik temu. Situasi ini memperbesar risiko konflik kembali memanas di kawasan Timur Tengah. Iran menolak skema gencatan senjata sementara dan menuntut kesepakatan damai permanen, termasuk syarat strategis seperti pencabutan sanksi dan jaminan keamanan. Kebuntuan ini memicu kekhawatiran perang lanjutan.