Raksasa Migas AS Dulang Untung Miliaran Dolar Berkat Perang Iran
Perusahaan minyak dan gas (migas) raksasa Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan meraup keuntungan miliaran dolar AS akibat lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik antara Ir...
Menurut Reuters pada Jumat (27/3), harga minyak acuan global Brent rata-rata mencapai sekitar US$97 per barel sepanjang Maret. Angka ini melonjak 33 persen dibandingkan rata-rata Februari sebesar US$69 per barel, dan lebih tinggi dari Januari yang berada di kisaran US$65 per barel. Kenaikan tajam harga Brent ini disebabkan oleh perang yang pecah pada 28 Februari, yang menghentikan sekitar seperlima pasokan minyak dunia yang melintasi Selat Hormuz.
Lonjakan harga tersebut membuka peluang keuntungan besar bagi perusahaan migas AS seperti Chevron dan Exxon Mobil, serta perusahaan migas Inggris Shell. Leo Mariani, analis senior Roth Capital Partners, memperkirakan kinerja kuartal pertama 2026 perusahaan-perusahaan migas tersebut akan meningkat tajam seiring kenaikan harga energi. "Kuartal pertama akan menjadi luar biasa bagi perusahaan-perusahaan ini," kata Mariani.
Enam analis bahkan telah menaikkan proyeksi laba per saham Chevron sekitar 40 persen untuk kuartal I-2026. Sementara itu, estimasi laba bersih Shell naik rata-rata 15 persen. Chevron, yang memproduksi sekitar 4 juta barel per hari, diperkirakan akan memperoleh tambahan pendapatan hingga sekitar US$4 miliar hanya dari kenaikan harga pada Maret. Sedangkan Exxon, dengan produksi hampir 5 juta barel per hari, berpotensi meraup tambahan sekitar US$5,1 miliar.
Meskipun demikian, proyeksi laba Exxon Mobil tidak naik setinggi pesaingnya. Hal ini karena perusahaan tersebut memiliki produksi yang lebih besar di kawasan Timur Tengah yang terdampak konflik. Stewart Glickman, direktur riset ekuitas CFRA Research, menyatakan bahwa hal ini menjadi faktor penahan kenaikan estimasi keuangan Exxon. "Ini menunjukkan bahwa proyeksi perusahaan sudah memasukkan dampak jangka panjang, bahkan ketika pemerintahan (Donald) Trump berupaya memberi keyakinan kepada pasar bahwa lalu lintas akan kembali normal melalui Selat Hormuz," ujar Glickman.
Perusahaan migas AS lainnya yang diperkirakan akan mendapatkan keuntungan adalah Diamondback Energy, raksasa minyak yang fokus pada produksi *shale* (minyak serpih). Analis memperkirakan perusahaan migas AS tanpa aset internasional ini akan mencatat laba sekitar US$3 per saham pada kuartal I-2026, atau nyaris naik 28 persen dari estimasi sebelum perang. Proyeksi laba tahunan perusahaan ini juga telah direvisi naik 22 persen. "Industri minyak sepenuhnya bergantung pada harga. Harga naik, semua perusahaan minyak diuntungkan," kata Anil Agarwal, pendiri Cairn Oil & Gas di India.
Meskipun laba kuartal pertama diperkirakan melonjak, hal itu tidak akan serta-merta meningkatkan belanja modal atau memicu investasi baru. Sebab, gejolak harga minyak ini bersifat sementara, sedangkan proyek baru membutuhkan kepastian jangka panjang. "Harga minyak bisa naik, bisa turun. Untuk proyek baru, saya harus melihat lima hingga tujuh tahun ke depan apakah itu layak," ujar Jeff Lawson, Wakil Presiden Eksekutif Cenovus.
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260327152841-85-1341838/raksasa-migas-as-dulang-untung-miliaran-dolar-berkat-perang-iran
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
06 Apr 2026
Angkasa Pura Alihkan Rute Penerbangan Imbas Cuaca Buruk di Jakarta
06 Apr 2026
Pedagang Mengeluh Harga Plastik Melonjak 3 Kali Lipat
06 Apr 2026
Buruh Sebut Ada Sinyal Badai PHK 3 Bulan Lagi
06 Apr 2026
Freeport Indonesia Gandeng Uncen Dorong Pendidikan Inklusif di Papua
06 Apr 2026
OJK Blokir 953 Pinjol Ilegal per Maret 2026
06 Apr 2026
Stok Melimpah, Bulog Siap Salurkan SPHP Kemasan 2 Kg