Siasat Mengatur Keuangan saat Biaya Hidup Terus Mencekik, Gaji Ngepas!
Jakarta, Mengatur keuangan pribadi kini terasa semakin menantang di tengah biaya hidup yang terus naik.Harga makan, sewa tempat tinggal, transportasi, hingga tagihan bulanan membua...
Di sisi lain, sebagian orang justru merasa porsi tabungan 20 persen terlalu kecil jika ingin mengejar target besar seperti membeli rumah atau mempersiapkan dana pensiun.Lihat Juga :EDUKASI KEUANGANSaham Nyangkut saat IHSG Jatuh, Dijual atau Ditahan?
Lalu, apakah formula 50/30/20 masih relevan dipakai saat kondisi ekonomi sekarang?Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menilai metode tersebut sebenarnya masih relevan, selama tidak diperlakukan sebagai aturan baku yang kaku."Konsep 50/30/20 ataupun konsep-konsep pengaturan keuangan pribadi yang lain masih sangat relevan dengan kondisi sekarang. Harus dipahami adalah agar semakin relevan dengan kondisi kita, maka angka-angka tersebut harus fleksibel mengikuti situasi dan kondisi, bukan sekadar angka baku yang tidak boleh berubah," ujarnya kepada .com, Jumat (22/5).Menurut Andi, ketika pengeluaran kebutuhan pokok membesar sementara pemasukan tidak bertambah, pos yang sebaiknya lebih dulu dikurangi adalah pengeluaran kesenangan atau hiburan.Ia menilai kebutuhan hiburan masih bisa ditunda dibandingkan tabungan yang tetap diperlukan sebagai cadangan menghadapi kebutuhan besar di masa depan.Lihat Juga :EDUKASI KEUANGANRupiah Tembus Rp17.600, Masihkah Tepat Investasi Dolar?"Sebaiknya dikurangi terlebih dahulu adalah pengeluaran untuk kesenangan. Alasannya kebutuhan kesenangan sifatnya sebenarnya tidak terlalu penting dan urgent, dan masih bisa untuk ditunda konsumsinya," katanya.Meski begitu, ia mengakui kondisi di lapangan sering kali berbeda. Banyak orang justru memilih mengurangi tabungan demi mempertahankan gaya hidup atau hiburan karena secara psikologis hasil dari pengeluaran hiburan bisa langsung dirasakan saat ini, sedangkan manfaat menabung baru terasa di masa depan.Andi juga menilai porsi tabungan atau investasi sebesar 20 persen sebenarnya sudah termasuk ideal. Namun, angka itu tetap bisa diperbesar apabila kondisi keuangan memungkinkan, terutama bagi mereka yang memiliki target finansial besar seperti membeli rumah."Kalau target finansialnya besar dan kondisinya memungkinkan, maka tidak ada salahnya bila porsinya juga diperbesar sampai semaksimal yang mampu kita penuhi," ujarnya.Lihat Juga :EDUKASI KEUANGANStrategi Cuan Maksimal dari Obligasi Saat Ekonomi Global Morat-maritIa mencontohkan kelompok lajang tanpa tanggungan atau mereka yang penghasilannya jauh di atas kebutuhan bulanan memiliki ruang lebih besar untuk memperbesar porsi investasi.Sebaliknya, bagi masyarakat yang penghasilannya terbatas, Andi menilai pengurangan porsi tabungan sementara juga bukan hal yang tabu selama kebutuhan dasar tetap bisa terpenuhi."Bukan hal yang haram juga apabila perlu mengurangi porsi menabung atau berinvestasinya misal jadi 10 persen. Jangan menabung dulu bila karena menabung justru bikin kita jadi kesulitan makan," katanya.Untuk masyarakat dengan gaji pas-pasan, Andi menyarankan tetap menabung dengan nominal atau persentase yang tidak memberatkan."Menabung dengan persentase yang tidak memberatkan mereka, sehingga meskipun menabung mereka masih bisa makan dan berbagai kebutuhan lainnya yang penting dan wajib masih dapat terpenuhi dengan baik," ujarnya.
Selain formula 50/30/20, Andi juga menawarkan beberapa alternatif budgeting yang dinilai lebih fleksibel untuk kondisi saat ini.Salah satunya pembagian 55 persen untuk kebutuhan sehari-hari dan cicilan, 10 persen tabungan atau investasi, 10 persen pengembangan diri, 10 persen hiburan, 10 persen dana darurat, dan 5 persen dana amal.Ada pula metode 10/20/30/40 yang membagi pengeluaran menjadi 10 persen dana amal, 20 persen tabungan, 30 persen kewajiban, dan 40 persen kebutuhan sehari-hari."Konsep manapun yang dipilih, sesuaikan dengan kemampuan dan kondisi kita, dan disiplin dalam menjalankannya," kata Andi.Lihat Juga :EDUKASI KEUANGANSiasat Beli Hewan Kurban di Tengah Lonjakan Harga Jelang IduladhaPandangan serupa disampaikan perencana keuangan Mike Rini Sutikno. Menurut dia, metode 50/30/20 masih relevan, tetapi lebih tepat diposisikan sebagai framework dasar, bukan aturan wajib yang harus diterapkan sama oleh semua orang."Yang penting bukan angkanya yang tepat atau harus exactly 50/30/20, tapi prinsip dasarnya yaitu memisahkan kebutuhan, keinginan, dan tabungan," kata Mike.Ia menjelaskan metode tersebut pertama kali dipopulerkan Senator Amerika Serikat Elizabeth Warren pada 2005. Namun, kondisi ekonomi saat ini sudah jauh berubah karena dipengaruhi inflasi, kenaikan biaya hidup, hingga tekanan suku bunga.Mike mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan masyarakat bukan langsung memangkas pos tertentu, melainkan melakukan audit pengeluaran lebih dulu.Semua pengeluaran perlu dipetakan mana yang benar-benar kebutuhan primer dan mana yang sebenarnya sekadar gaya hidup.Lihat Juga :EDUKASI KEUANGANMasih Cuankah Berinvestasi Mata Uang Asing di Tengah Gejolak Dunia?Ia mencontohkan makan merupakan kebutuhan, tetapi frekuensi makan di restoran adalah pilihan. Begitu pula tagihan listrik yang memang kebutuhan, tetapi penggunaan AC berlebihan masih bisa dioptimalkan agar pengeluaran lebih efisien."Kalau kita mau melakukan penghematan, kita perlu tahu dulu mana yang sebenarnya kebutuhan dan mana yang keinginan," ujarnya.Mike juga menilai pendekatan berbasis persentase sering kali tidak cukup untuk target finansial tertentu. Karena itu, ia menyarankan masyarakat menggunakan metode goal-based budgeting atau budgeting berdasarkan tujuan keuangan.Dalam metode tersebut, seseorang menentukan lebih dulu target yang ingin dicapai, misalnya membeli rumah dalam jangka waktu tertentu. Setelah target dan waktunya ditetapkan, baru dihitung kebutuhan tabungan per bulan untuk mencapainya."Kalau 20 persen enggak cukup berarti perlu ditambah. Jadi pendekatannya jangan persentase, tetapi berdasarkan tujuan keuangan," katanya. Menurut Mike, masyarakat dengan penghasilan rendah juga perlu memakai pendekatan berbeda.Jika sebagian besar pendapatan sudah habis untuk kebutuhan dasar, fokus utama sebaiknya diarahkan pada upaya meningkatkan pendapatan, misalnya lewat pelatihan keterampilan tambahan atau usaha sampingan.Meski begitu, ia menilai kebiasaan menabung tetap perlu dibangun meski nominalnya kecil dan dilakukan bertahap sesuai kemampuan."Daripada target 20 persen, mulai dengan yang lebih realistis. Contoh nabung Rp50 ribu per bulan, kalau enggak sanggup ya Rp20 ribu. Intinya membangun kebiasaannya dulu," ujarnya.Selain goal-based budgeting, Mike menyebut metode budgeting kini jauh lebih beragam. Ada zero-based budgeting yang mengalokasikan setiap rupiah secara detail sejak awal bulan, hingga metode amplop digital lewat aplikasi perbankan.Menurut dia, tidak ada formula budgeting yang benar-benar universal karena kondisi keuangan dan psikologis tiap orang berbeda-beda."Metode budgeting mau 50/30/20, 30/30/10, atau bahkan 50/50, prinsip dasarnya sebenarnya membantu orang untuk menjadi lebih mindful spending," katanya.
Siasat Mengatur Keuangan saat Biaya Hidup Terus Mencekik, Gaji Ngepas!
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260523023610-83-1361463/siasat-mengatur-keuangan-saat-biaya-hidup-terus-mencekik-gaji-ngepas
Dapatkan update mingguan
Langganan newsletter Buletin8.
Terkait
Lihat kategori
28 May 2026
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Emas ke Hongkong Senilai Rp45 M
27 May 2026
Bank Sentral Amerika Minta Dunia Pangkas Konsumsi Minyak dan Gas
27 May 2026
Menyalahi Aturan, Kemendag 'Take Down' 2.639 Iklan Digital
27 May 2026
Tebar Rasa Syukur, PNM Salurkan Hewan Kurban ke Warga di 18 Cabang
27 May 2026
Wamentan Sebut Stok Hewan Kurban 2026 Melimpah, Surplus 800 Ribu Ekor
27 May 2026
Aturan Upah Lembur Libur Nasional: Apa Masuk Kerja Wajib Dibayar Uang?