Nasional 14 Feb 2026 1 views

Komisi III DPR Soroti Kemacetan Tol Jakarta-Tangerang: Kian Meresahkan

Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mendesak pejabat dan institusi terkait untuk segera mengambil tindakan konkret guna mengatasi kemacetan parah di ruas Tol Jakarta-Tanger...

Komisi III DPR Soroti Kemacetan Tol Jakarta-Tangerang: Kian Meresahkan
Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mendesak pejabat dan institusi terkait untuk segera mengambil tindakan konkret guna mengatasi kemacetan parah di ruas Tol Jakarta-Tangerang yang semakin meresahkan masyarakat.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Rano Alfath, menyoroti dua penyebab utama kemacetan dan potensi bahaya di jalan tol tersebut. Pertama, maraknya truk yang menggunakan lajur kanan, yang seharusnya diperuntukkan bagi kendaraan ringan untuk mendahului. Kedua, masih banyaknya truk dengan muatan berlebih dan dimensi tidak sesuai standar (Over Dimension Over Loading/ODOL).

"Laporan masyarakat menunjukkan bahwa sejumlah truk kerap menggunakan jalur kanan yang semestinya diperuntukkan bagi kendaraan ringan untuk mendahului, sehingga memicu perlambatan arus, potensi kecelakaan, dan kemacetan panjang, khususnya pada jam sibuk," kata Rano dalam keterangannya pada Sabtu (14/2). Ia menambahkan bahwa banyak aduan yang diterima terkait truk-truk yang leluasa mengambil lajur kanan di Tol Jakarta-Tangerang, yang sudah menyangkut keselamatan pengguna jalan. Rano menegaskan bahwa jalur kanan bukan untuk kendaraan berat yang berjalan lambat.

Selain itu, Komisi III DPR juga menyoroti keberadaan truk-truk ODOL yang masih bebas beroperasi di jalanan, termasuk masuk ke dalam ruas tol. Menurut Rano, praktik ini tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga mempercepat kerusakan infrastruktur jalan dan meningkatkan risiko kecelakaan fatal. "Kita sudah lama berbicara soal penertiban ODOL, tetapi di lapangan praktiknya masih terjadi. Penegakan hukum tidak boleh setengah hati sehingga kalau ada pelanggaran harus ada konsekuensi nyata," ujarnya.

Rano juga menilai sebagian pengemudi truk terkesan tidak gentar terhadap sistem tilang elektronik (ETLE), seolah tidak ada efek jera yang dirasakan. Oleh karena itu, ia meminta Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk mempertegas implementasi ETLE, memastikan sanksi benar-benar ditegakkan, dan melakukan evaluasi jika terdapat celah dalam sistem pengawasan. Dengan demikian, ia berharap jangan sampai muncul persepsi bahwa pelanggaran bisa diabaikan tanpa konsekuensi.

Menjelang Ramadan, di mana mobilitas masyarakat cenderung meningkat, Rano mendorong adanya langkah preventif melalui rekayasa lalu lintas yang terukur. Opsi yang dapat dipertimbangkan antara lain pembatasan waktu operasional kendaraan berat pada jam tertentu, pengawasan intensif di titik-titik rawan, serta patroli rutin untuk memastikan truk tidak menggunakan lajur kanan.

Ia juga meminta koordinasi yang lebih solid antara Polri, Kementerian Perhubungan, dan pengelola jalan tol agar kebijakan yang diambil tidak parsial, tetapi terintegrasi dan berkelanjutan. "Tinggal bagaimana pengawasan diperketat dan penegakan hukum dilakukan secara konsisten. Masyarakat menunggu langkah nyata, dan saya percaya aparat bisa merespons dengan cepat dan terukur," tutur Rano. Ia juga mengingatkan agar keresahan itu tidak dibiarkan berlarut-larut karena negara harus hadir memastikan jalan tol aman, tertib, dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260214134225-32-1328199/komisi-iii-dpr-soroti-kemacetan-tol-jakarta-tangerang-kian-meresahkan
Dapatkan update mingguan

Langganan newsletter Buletin8.